Yapp..
Sesuai namanya, sebuah tiara..
Haaah.. Cerita ini berawal dari orang tua teman saya yang mempromosikan sekolah ini kepada kami - saya dan orangtua saya.
Di saat kebingungan kami mencari sekolah untuk melanjutkan kursi pendidikan saya di SMA, muncul mereka yang dengan acuh tak acuh nya membantu kami dan menawarkan sekolah tersebut kepada kami.
Di pandangan saya, itu hanyalah sekolah biasa yang levelnya tidak jauh beda seperti Global Prestasi School, SPH, dll.
Namun ketika saya melihat foto yang ditunjukkan oleh teman (sahabat) dan cerita yang dibawakannya, saya mulai tertarik dengan sekolah tersebut.
Ceritanya pun dimulai.
Saat itu saya masih netral dengan segala tawaran yang disampaikan pribadi kepada saya.
Alasan saya pindah sekolah sebenarnya bukan karena saya membenci sekolah saya/teman-teman saya/bahkan gurunya. Saya hanya merasa bosan dengan suasana yang itu-itu saja.
Alhasil, tawaran mereka pun saya terima dengan senang hati - Makasih ya...
Ternyata yang turut mengikuti tes bukan hanya saya, tapi ada satu orang lagi dan dia juga teman baik saya. Semangat saya untuk duduk di sekolah itu pun semakin besar. Kiat dan tekat saya pun meluap, hingga saya belajar dengan guru les selama dua minggu penuh yang berdurasi 2 1/2 jam 1 harinya - buat saya ini memang berlebihan, karena saya tidak pernah mendapat asumsi pendidikan dari luar sekolah, khusus nya les.
Sampai lah pada hari-H nya, saya pun mengikuti tes nya.
Ketika pertama kali menginjak sekolah tersebut, saya langsung terpana sekali dengan sekolah tersebut.
Nuansa alam yang memang benar-benar hidup. Suasana yang unik dan asri. Dan jujur, menurut saya, itu sekolah terbaik yang pernah saya lihat.
Ketika saya memasuki ruang tes, ada sekitar 20 siswa yang sudah siap dengan peralatan mekanis ala tes mereka.
Saya datang terlambat dengan teman saya karena kami sedang asyik mengelilingi sekolah tersebut.
Ketika lembar pertama saya terima - Matematika.
Saya masih bisa berlagak tenang selayaknya pelajar profesional.
Ketika lembar kedua saya buka..
Keringat dingin sudah mulai bercucuran dari hulu di kening saya.
Ketika lembar ketiga dan seterusnya saya buka..
Saya hanya diam.
Diam menanti jawaban yang datang dari sorga ala ajaib.
Matematika pun selesai.
Saya langsung lari ke kantin bersama teman saya.
Saya mendiskusikan soal matematika yang sangat "menarik" yang sudah kami kerjakan tadi.
Dinginnya AC kantin perlahan meluluhkan perasaan capek kami.
Hingga kami bisa tersenyum kembali dengan meratapi suasana asing, namun damai dan ramai itu.
Tes English dimulai.
Saya bisa tersenyum selebar-lebarnya karena menurut saya, It's too easy.
Yap, Optimistik untuk diterima bagi saya cukup besar.
Hingga saya pulang dengan perasaan tenang yang mungkin bisa dibilang berlebihan.
Beberapa minggu pun berlalu.
Orangtua saya memberitahukan bahwa saya TIDAK diterima.
Waw.
Sekelebat peristiwa menghampiri saya.
Orangtua teman saya yang sangat berharap saya bisa masuk ke sekolah tersebut dan melampaui jalan kesuksesan,
Orantua saya yang sangat berharap saya bisa menduduki sekolah tersebut.
Support guru dan teman-teman saya.
Musnah seketika.
Saya jatuh.
Dan saya merasa bahwa saya sangat bodoh.
Hari-hari pun berlalu,
Keajaiban datang.
Pihak Tiara Bangsa menelpon saya dan berkata bahwa ada kesempatan bagi saya untuk mengikuti tes kedua.
Ada yang bilang, sebagian besar keajaiban ini dibantu oleh orangtua dari teman saya - makasih banyak.
Tes tersebut akan diadakan tanggal 20 Februari 2010.
Dan ini kesempatan terakhir untuk saya.
Hanya saya yang mendapatkan kesempatan ini.
Seluruh gelombang saya telah gagal - tidak ada yang berhasil/lulus dari tes di Tiara Bangsa,
Gelombang dari teman saya pun hanya dia yang diterima (dari 25 siswa).
1 hal yang selalu terngiang di benak saya.
Tiara Bangsa = Sekolah Elite.
Sekolah yang benar-benar menunjukkan ke profesionalan nya.
Dengar-dengar, ada jutawan yang menyogok pihak Tiara Bangsa untuk memasukkan anaknya ke dalam sekolah tersebut, namun ditolak.
Sangat berbeda dengan sekolah lain, yang sibuk open house untuk menarik pihak luar, etc.
Dan ini merupakan kehormatan tersendiri bagi saya karena saya mendapatkan kesempatan seperti ini.
Saya berharap, sangat berharap sekali, saya dapat melakukan tes ke 2 tersebut dengan segenap kemampuan maksimal saya dan membuahkan hasil yang memuaskan.
Apabila saya tidak diterima, ya, mungkin memang bukan itu jodoh saya.
Saya akan tunjukkan kepada orangtua teman saya, sahabat saya, orangtua saya, dan teman-teman sekalian, bahwa saya mampu melakukan yang terbaik.
Amin.
Jumat, 15 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)


