Ya. Inilah. Shit Happens versi 2.0.
Setelah saya menge-post¬ blog sebelum ini dan menghabiskan novel yang saya baca, sekitar jam 2 malam, telepon rumah berdering. Saya yang baru mau menidurkan diri, terpaksa bangun, mengangkat kaki, dan lari ke bawah untuk mengangkat telepon.
-percakapan di bawah ini menggunakan bahasa Kalimantan-
“(Nama Daddy)? Kamu di mana? Darurat nih!” kata seorang wanita di telepon itu.
“Umm. Ini Kiefong. Ayah sudah tidur. Saya berbicara dengan siapa ya?” tanyaku ringan.
“Kiefong! Ini tante (nama). Cepat kamu bangunkan ayah dan ibu kamu! *suara terdengar parau* A....sAp... ada... Asaaa...p !! C..pat... A....s....A.P di sini !” suara tante itu tidak terdengar jelas, direndam suara keramaian. Dan sepertinya, saya mendengar bunyi sirene, semacam ambulans, mobil polisi, atau pemadam kebakaran.
“Ha? Tante mau makan daging asap?” tanyaku kebingungan.
Mungkin tante itu pergi menyendiri, mencari tempat sepi, lalu melanjutkan percakapan, “Bukan Kiefong, di toko paman (nama) keluar asap. Cepat kamu bangunkan ayah dan ibumu!” seru tante itu.
“Apaan sih? Kok toko bisa keluar asap? Tante yang benar dong, kalau bercanda jangan kelewatan. Kalo Kiefong membangunkan ayah dan ibu, Kiefong bisa dipukul-pukul,” serangku gerang.
“Aduh. TOKO.. K.E.B.A.K.A.R.A.N. Jelas?” jawabnya singkat.
Tiba-tiba seluruh atmosfer di ruangan tamu itu terasa dingin. Tanpa saya sadari, saya melepas gagang telepon. Jeda beberapa detik. Saya mengambil telepon itu, dan menjelaskan kepada tante, bahwa saya akan memberi tahu Mom dan Daddy.
Setelah saya menutup telepon, saya berteriak histeris seperti melihat setan, ketika berlari meniti tangga, menuju kamar Mommy.
“Mommy! Daddy! Wake up Wakeee Up !!!” seruku lantang. Lalu saya menyalakan lampu.
Mommy hanya mengangkat alis, dengan kelopak mata tertutup, dilengkapi ekspresi cengo dengan mulut me-nganga. Daddy masih tertidur.
“Nita (nama mbak saya), kan saya udah bilang. Bangunin saya jam 10 pagi. Ini masih subuh kamu udah bangunin saya. Mau ngajak saya senam pagi, ya?” kata Mommy kesal.
“Mommy, ini aku. Kiefong! Cepat bangun. Di toko Paman (Nama) kebakaran! Sebelah toko kita, Mom!” jelasku langsung kepada inti.
Sejenak Mommy hanya mengangguk. Lalu, ia membuka mata dengan ekspresi kaget, “What?! Terus gimana apinya? Udah padam? (Nama Daddy), wake up! Kebakaran di toko sebelah!!!” kata Mommy was-was.
Daddy terbangun, lalu saya menceritakan segalanya. Mommy masuk ke kamar mandi untuk ganti baju, demikian Daddy. Suasana terasa menegangkan. Ini pertamakalinya saya melihat Daddy dan Mommy tampak amat-teramat panik.
Mommy menyuruh saya membuatkan saya segelas air gula. Saya membuatkannya, walaupun tak tahu untuk apa. Lalu saya memberikannya kepada Mommy, dan diminumnya. Mommy dan Daddy langsung pergi menuju ke bawah, diikuti saya.
“Mommy, can I join?” tanyaku memohon.
“Nope. Gak boleh. Kamu kan gila kalau liat api. Mommy gak bisa ngebayangin kalau kamu ikut,” lalu mereka meninggalkan saya menggunakan motor.
Dengan perasaan kecewa, saya pergi menuju kamar, dan merentangkan diri di kasur.
Tak lama kemudian, HP saya berbunyi.
“Kiefong, tolong sekarang kamu ke kamar Mommy, ambil kunci berangkas toko. Asdyg@^iygo bjaoij84t778as6df hguhs8ut88!” suara Mommy terdengar tak jelas karena suasana di sana tampaknya ramai.
Saya langsung menuju kamar orangtua saya, lalu mengambil kunci berangkas. Sejenak, saya berpikir bahwa mungkin maksud Mommy tadi, yaitu untuk meminta saya mengantarkan kunci ini kepada beliau. Saya langsung ke bawah, dan mencari sepeda motor, namun tak ada. Untung ada sepeda-tanpa-‘motor’, akhirnya saya menggoes sepeda dengan cepat, menuju toko.
Baru saya melewati gerbang di komplek perumahan, lalu sebuah motor membunyikan klaksonnya, memberhentikan saya.
“What the hell are you doing here? Mommy kan minta kamu buat siapin kuncinya, gak perlu nganterin segala,” sembur Mommy.
Saya hanya terdiam, lalu menggoes sepeda ke rumah.
Sampai rumah, Daddy dan Mommy mengambil Emergency Lamp, dan meminta kunci berangkas dari saya. Saya merasa kesal dan.... sedih.
“Do you really want to join us, son?” tanya Daddy lembut.
Saya hanya mengangguk.
“Yasudah.. Cepat ganti baju dan celana. Awas kalau kamu bikin masalah di sana, ya,” kata Mommy.
Hiip Hiip HOOORAY! Akhirnya. Api, saya datang.
Saya langsung mengganti kostum, dan duduk di jok sepeda motor, disupiri oleh Daddy. Saya hanya senyum-senyum riang berlebihan.
“Ckckck. Sejak kapan kamu jadi euforia, nak? Maybe I must bring you to visit a doctor someday,” sindir Mommy.
“Biarin. Gak tau orang lagi seneng ya?” jawabku sarkastis.
Hampir dekat dengan lokasi kebakaran, Daddy menghentikan motornya.
“Son, just go straight from here, then turn right. Kita mau ke toko lewat belakang. Paman (Nama karyawan) udah ngebukain pintu toko buat kita. We want to safe the certificate, money, and ‘friends’. Don’t non-active your phone. I will call you later, and 1 more thing, son.. Jangan terlalu dekat sama apinya,” jelas Daddy.
Saya hanya mengangguk mengerti, lalu mengikuti instruksi Daddy.
Api terlihat sangat besar. Asap mengepul di mana-mana. Terlihat orang ramai mengelilingi toko itu dari kejauhan. Sirine lampu pemadam kebakaran dan polisi meramaikan suasana. Terlihat salah seorang pemadam kebakaran terluka. Baju dan celananya terlihat amat kotor. Sejenak, saya pikir menjadi pemadam kebakaran itu asyik. Tak lama kemudian, saya lihat tante dan om saya sedang menyaksikan suasana-metropolis itu.
-percakapan di bawah ini menggunakan bahasa Kalimantan-
“Hai, tante dan om. Dari jam berapa apinya menyala?” tanyaku.
“Kiefong??? Kok belum tidur? O, iya.. Kamu yang tadi mengangkat telepon kan, ya? Ini udah dari jam 12. Oia, Tante curiga loh, Kiefong. Kemarin toko tante (Nama) baru aja kebakaran. Kamu inget kan kejadian itu? Yaa.. Walaupun kamu gak lihat langsung. Mungkin aja ya.. Pelaku kebakaran ini adalah preman. Menurutmu gimana?” jawab tanteku panjang lebar.
Saya hanya mengangguk setuju-tak-setuju, lalu meninggalkan mereka. Langkahku terhenti, tepat di depan api itu berkobar. Api itu seakan menari dengan alunan melodi yang halus, tapi dalam dinamika yang keras. Tempo gerakan api itu terasa cepat, seperti detak jantung bocah kecil yang sedang menaiki Roller Coaster. Dapat kurasakan kehangatan di antara orang-orang yang menyaksikannya... Namun ku tahu.. Jiwa mereka tidak sehangat yang dirasakan oleh raga mereka. Jiwa mereka beku, terutama kepada sang pemilik toko. Api ini diam-diam membekukan raga kami, ditemani oleh sinar bulan purnama yang tersenyum sinis.
“... Kiefong!! Kiefong!!” seru Mommy berulang kali. Ternyata saya baru sadar, Mommy telah memanggil saya yang sedang melamun berulang kali.
Tiba-tiba seorang pemadam kebakaran menarik lengan saya, lalu menyuruh saya pergi.
“Kamu ini gimana sih? Mau jadi steak bakar ya? Aduh.. Kapok deh ngajak kmau ke sini,” keluh Mommy.
“Jauh-jauh dari selang itu. Kalau selang itu dinyalakan, dan kamu menginjaknya, you will be fly away.. far far away. Tekanan di air itu tinggi banget. Jangan dekat-dekat, ya,” jelas Daddy yang tiba-tiba-tiba nongol.
“Yaaaa. Oke, oke. Daddy, someday I want to be a fire-fighter like them maybe,” pintaku polos, seperti seorang anak kecil yang mengimpikan masa depannya kelak.
“Haha, good luck. So, we don’t need to give you ‘high’ education for you, when you’re older. Kalau cuma ingin jadi pemadam kebakaran, dari SD kamu gak usah sekolah aja. Bantu Daddy Mommy kerja,” Mommy yang menjawab pertanyaanku.
Saya hanya memberikan ekspresi mati. Mommy menghiraukan saya, dan berbicara dengan seorang perempuan yang ada di sebelahnya.
Daddy berjalan pergi meninggalkan kita. Ia berjalan mendekati teman-temannya, dan menanyai apa penyebab kebakaran ini terjadi.
Selang beberapa waktu kemudian, Daddy kembali, dan menceritakan asal mula kebakaran ini terjadi. Ternyata penyebabnya adalah konsleting listrik.
Sekitar jam 5 pagi, kami semua menyaksikan api yang telah dimusnahkan. Lalu, kami pulang ke rumah. Selama perjalanan, kami semua diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sejenak, ada perasaan nggak enak yang menyelimuti hati ini.
Sampai di rumah, kami semua pergi ke kamar MomDad, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Mommy menyeduh hot chocolate, dan menyalakan TV dengan volume rendah. Daddy langsung tidur. Mommy insomnianya kambuh. Saya hanya menemaninya sebentar, lalu masuk ke kamar saya, dan... tidur.
Jam 01.00 lewat sedikit...
“Morniiiiing !!!” sapa saya kepada dunia.
Mommy dan Daddy sedang makan di ruang tamu, bersama Henny Dwi Rachmawati (adek 1), dan Khonerlius Patrick (adek 2). Tiba-tiba telepon berdering...
Mommy mengangkat telepon itu, lalu berbicara dengan suara pelan, dengan orang yang ada di dalam telepon itu..
Ketika telepon ditutup....
“(Nama Daddy), cepat kita ke toko!!! Api di toko itu belum padam! Sekarang api itu bertambah besar!! Cepat selesaikan makannya!”
... to be continue Shit Happens Versi 3.O
Rabu, 09 Juni 2010
Jumat, 04 Juni 2010
Shit Happens - June, 01 2010
“Shit Happens”
That’s what exactly one my friend wrote an essay in the test paper about his experience. Result ? He failed.
Yup, shit happens jatuh kepada saya hari ini, tanggal 1 Juni 2010.
Pagi itu saya bangun sekitar jam 10.00, yang menurut jadwal ‘ala’ liburan saya, saya masih ada di Italia (mimpi).
Pagi itu Mommy membangunkan saya, yang masih bertualang di dunia mimpi.
“Bangun. Daddy wants you to join him to the Mal, and watch ‘Prince of the Persian’. Bang Sarjan lagi nyuci mobil. Kalo you belum bangun sebelum dia selesai nyuci mobilnya, kamu ditinggal Daddy.”
Tanpa berpikir panjang, saya langsung masuk ke kamar mandi. Sebelum membuka kran shower, saya melakukan ritual seperti biasa¬ – buka celana dan baju, duduk di kloset lima menit (tidur), perenggangan badan – barulah saya mandi.
Setelah mandi dan berpakaian, saya dan Daddy langsung masuk ke mobil.
Saya sedikit kagum melihat Daddy yang mengenakan pakaian kuning berwarna keemasan, yang dicoraki berbagai tinta hitam di atasnya – alias batik. Tak lama kemudian Daddy berkata kepada Bang Sarjan, “Kita ke Cilengsi, saya ada rapat.” Crap! Makan itu Mal !
Sejenak, saya ingin membuka mulut untuk meluncurkan berbagai kalimat sarkastis, guna menyerang Daddy supaya segera beranjak ke mal. Namun, Daddy segera menutupnya dengan berkata, “Don’t worry, we will go to ‘your heaven’ and watch the film after I finish the meeting. Alright?”
Saya yang masih diredam perasaan emosi dan kalang kabut langsung mengangguk ragu, lalu menopang dagu melihat Daddy yang sangat berantusias dengan planning-nya yang menjebak itu.
Setiap kali saya membesarkan volume radio, telepon Daddy langsung berdering, membuat saya melengos dan nyerocos berlebihan. Nada dering di HP Daddy selalu berbunyi setiap Daddy menutup komunikasi dengan rekan sebelumnya. Untungnya, saya nggak lupa membawa headset, jadi kata demi kata yang Daddy ucapkan terdengar samar-samar, diiringi lagu Stay Close Don’t Go-nya Secondhand Serenade.
Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya kita sampai pada Cilengsi Center. Daddy langsung masuk ke sebuah toko di Department Store itu.
“Hai. Di mana engkok *lupa namanya*?,” tanya Daddy kepada salah satu karyawan di toko itu, dengan bahasa Kalimantan. Karyawan itu segera memanggil bosnya. Tak lama kemudian, Daddy bertemu dengan orang yang dicarinya itu, lalu ngobrol panjang lebar dengannya. Mulai dari kerjaan di toko, politik, ekonomi, sejarah, dan lainnya. Obrolan mereka membuat otak saya terkontaminasi, karena teringat dengan pelajaran IPS di sekolah. Oleh karena itu, saya meminta uang jajan dari Daddy, lalu menelusuri Cileungsi Department Store, yang di dalamnya ada Alfamart.
Setelah saya asyik berbelanja, saya langsung masuk ke dalam mobil, membagikan minuman kepada Bang Sarjan, dan menyuruhnya untuk menyalakan AC mobil.
Di dalam mobil, kami membicarakan tentang sekolah, dan juga masa lalu kami masing-masing. Tiba-tiba perasaan nggak enak datang ketika Bang Sarjan membicarakan berita pagi ini.
”Fong, tau gak. Masa ada anak sekolah seumur kamu nyuri pepaya Rp27.000,00, dipenjara 2 tahun loh.”
Saya hanya memberikan ekspresi palsu, pura-pura terkejut. Padahal ada perasaan ndak enak di hati saya.
Setelah kurang lebih 2 jam menunggu Daddy selesai berbincang-bincang di dalam mobil, akhirnya Daddy datang dan menemui kami, yang sedang asyik ngobrol. Lalu Daddy menyuruh Bang Sarjan untuk menyetir menuju Pabrik American Standart, yang terletak di Cilengsi juga.
“Daddy! Kapan kita ke malnya? Ini udah jam 3 sore. Aku juga belum makan,” komplainku kepada Daddy. “Easy, boy. Daddy mau rapat dulu, habis itu kita baru ke Kelapa Gading, ya?” serang Daddy ringan. Mau-nggak-mau saya hanya mengangguk, yang diriasi senyum masam.
Ternyata benar seperti dugaan saya, pabrik itu tidak terlalu jauh dari Cileungsi Department Center. Hanya beberapa meter. Sama seperti tadi, Daddy hanya beranjak meninggalkan mobil, lalu sibuk dengan urusannya sendiri. Saya hanya memberikan ekspresi males-malesan.
“Semakin kaya orang, semakin banyak waktu yang kebuang, Fong. Kamu harus maklumin papa-mu,” hibur Bang Sarjan.
“Ya. Semakin tinggi jabatan orang, semakin tinggi pula hatinya,” balasku sarkastis.
Bang Sarjan hanya tertawa ringan, lalu menyenderkan kursinya ke belakang, dan tertidur lelap. Saya membuka tas yang saya bawa dari rumah, lalu mencari barang di dalam tas itu, berharap ada barang menarik yang dapat membekukan waktu dan mengusir rasa bosan ini. Ah! Novel “Refrain” karya Winna Efendi. Lalu saya tersenyum, dan membacanya.
Sekitar 3 jam berlalu, saya melihat Daddy keluar dari ruangan tempatnya rapat, dengan wajah was-was dan gelisah gak karuan. Lalu ia berjalan mondar-mandir sambil memegang telepon di telinganya. Khawatir, saya langsung membuka pintu mobil, dan menghampirinya.
”Daddy, what’s wrong?” tanyaku gelisah.
“A thief came to our house, dear. Suster tadi nelpon Daddy, and ngabarin berita itu,” jawabnya dengan suara parau.
Ah! Ternyata firasat buruk tentang maling seumuran dengan saya yang mencuri pepaya itu... ternyata, ini yang terjadi...
“Anything ok? I mean, did the thief steal something from our house? Did he hurt anyone? Pencurinya ketangkep, gak? Mommy di mana?” balasku bertubi-tubi.
Daddy hanya menunjukan jari telunjuknya di depan bibirnya, guna memberikan isyarat untuk tenang, lalu ia berbicara dengan barang yang ada di telinganya, “Halo? Ya.. Gimana sus, ada yang kecuri, gak? Bagus. Semuanya baik-baik aja, kan? Pencurinya ketangkep, gak? Apa? Tidak ketangkep? Emang kalian ada di mana waktu pencurinya datang? Encik di mana? Toko? Aduh.. Yaudah, sekarang kamu telepon encik, suruh dia pulang. Iya.. Iya... Cek lagi ada barang yang hilang atau gak.”
Daddy menutup teleponnya, lalu memaksakan seulas senyum di bibirnya, “All of your answer have been answered, right? Now, just let me finish the meeting, and we will go home, oke?” katanya ringan.
... We will go home, oke? Saya mengerjapkan mata ketika mendengar omongan Daddy yang terakhir.
“But... But.. I thought, we will go to Kelapa Gading, and watch the movie?” tanyaku polos.
“Sorry, sweetie. Next time, I promise you. You know what was going on in our house, right? Be tough, buddy,” lalu Daddy meninggalkan saya, dan pergi menuju ruangan rapat, dengan ekspresi sok-professional. Saya langsung membuka ebuddy, twitter, and facebook, dari hp saya, lalu mencurahkan perasaan dengki saya melalui sms ataupun chatting, kepada orang-orang yang saya percaya, termaksud Amelia Octaviana, dan ibunya.
Sekembalinya saya ke mobil, saya mendengarkan musik dari radio, dan melanjutkan membaca novel Refrain. Hampir sekitar 1 jam, akhirnya Daddy kembali dari meeting, dan menyuruh Bang Sarjan untuk mengendarai mobil, menuju rumah.
“Hi. Have you eaten anything? Laper, gak?” tanya Daddy.
“What do you think? I have waited for you more than 5 hours, and sekarang Daddy ngebatalin jalan-jalan ke Kelapa Gading, pake nanya udah makan atau belum lagi!” serangku tajam hingga Daddy terdiam.
“Sekarang, kamu mau makan atau gak?” tawar Daddy dengan suara sedikit berubah.
Saya hanya mengangguk malas.
Daddy tersenyum, “Sarjan, kita ke rumah makan ayam kalasan. Kamu belum makan juga kan?” ajak Daddy.
Saya ambil headset, lalu memakai alat-perangkat-telinga itu melingkari muka saya, menancapkan kabel alat itu ke handphone saya, lalu jatuh ke dalam alunan musik yang keluar dari alat itu. Perasaan yang menyelimuti saya hanyalah kesal, marah, lelah, dan kecewa. Bingung harus marah dengan Daddy, pencuri-laknat-itu, atau diri saya sendiri yang egois.
Sekitar 1 jam perjalanan menuju rumah makan, saya hanya melengos dan mengeluh melihat suasana perjalanan yang sangat ramai dan macet. AC di dalam mobil nggak mampu mendinginkan hati saya yang sedang panas. Untung selama perjalanan saya sempat mencurahkan isi hati saya (yang mulai membusuk) kepada sang mantan, dan teman-teman saya.
Setelah kami makan di tempat makan kaki lima (rasa dan kualitasnya nggak beda jauh sama bintang lima), kami langsung on the way pulang. Selama perjalanan, Daddy melakukan ritual yang selalu ia lakukan ketika berada di dalam mobil, yaitu menelpon orang-orang toko, dan pembeli untuk menjelaskan display atau barang dagangannya. Untung seperangkat headset dapat ‘membisukan’ Daddy.
Kurang lebih 15 menit, kita sampai di rumah. Daddy langsung mengecek isi rumah, dan meminta penjelasan dari suster tentang apa yang dilakukan si pencuri terhadap seisi rumah.
Saya yang mendengarkan penjelasan suster menjadi tertawa terbahak-bahak, mendengarkan kebodohan si pencuri yang gagal mencuri barang di rumah ini. Setelah itu, saya mencurahkan perasaan kesal, lelah, dan kecewa saya kepada Mommy. Ia hanya tersenyum. Tak lama kemudian, saya sadar arti senyuman itu.
“Untung kamu gak ada di rumah, honey. Kamu orangnya kan tempramental. Kalo misalkan kamu ada di rumah, terus berantem sama pencurinya, Mommy gak bisa ngebayangin deh, muka kamu sekarang gimana. Nanti udah jelek, tambah jelek...” ejek Mommy.
Saya hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Mommy, lalu berjalan menuju kamar mandi, dan SPA.
Semua rasa lelah... kecewa... dan juga kesal, hilang saat saya duduk di atas bathup dan merentangkan kaki saya ke depan. Air hangat di dalam ‘mangkok besar’ itu melenyapkan seluruh amarah saya. Busa-busa putih lembut yang mengembang itu menyapa saya, menyentuh tubuh saya pelan, hingga seluruh emosi saya tersapu hingga ke ujung-ujungnya.
Setelah saya selesai SPA, saya langsung menuju kamar, dan menyeleasikan novel Refrain, lalu menulis postingan blog tentang kejadian hari ini.
_____________________________________________________________________________________
Sebenarnya suster saya nggak ada di lokasi kejadian, tapi ia telah diceritakan lengkap oleh 2 orang mbak saya, dan imajinasi suster saya hebat, jadi ia dapat menceritakannya se-detail mungkin.
Cerita dari suster...
Pencuri melihat pintu depan rumah saya yang terbuka, dan tidak ada mobil (dikira seluruh isi rumah saya telah pergi, dan lupa mengunci pintu).
Pencuri itu seorang diri, laki-laki, lalu masuk ke dalam rumah saya.
Mbak saya menyapanya, “Halo mas. Cari siapa ya?”
Pencuri itu kaget, lalu berkata, “Ahem.. Umm.. Saya disuruh bos kamu buat ngebetulin AC di kamarnya. Tadi saya lagi di rumah temen, tapi bos kamu suruh saya cepat-cepat untuk ke rumahnya, dan membetulkan AC-nya.”
Mbak saya dengan polosnya hanya mengangguk, dan mengantarnya ke kamar MomDad, di lantai dua.
“Ini kamarnya, Mas,” tunjuk mbak saya.
“Oh, besar juga ya...” kata pencuri itu. Mbak saya hanya melihatnya mondar-mandir di kamar MomDad. Lalu mbak saya itu memasang ekspresi curiga. Sebelum mbak saya membuka mulut, pencuri itu berkata,
“Mbak, tolong ambilin saya tangga, dan buatin teh anget, dong. Saya gak bisa kerja nih kalau gak relax,” pintanya.
Dengan bodohnya, mbak saya menuruti perkataan pencuri itu.
Ketika mbak saya membuatkan teh, ia menyuruh mbak saya yang satu lagi (panggil aja mbok), untuk mengambilkan sebuah tangga.
Mbok langsung menurutinya, dan mengambilkan sebuah tangga, lalu pergi ke kamar MomDad. Sesampainya di depan pintu kamar, ternyata pencuri itu telah mengunci kamar itu.
“Mas, ini tangganya mas.” kata mbok.
Pencuri langsung membuka pintu.
Mbok bertanya, “Kok, dikunci, mas?” tanya mbok curiga.
“Oia, maaf, tadi saya numpang buang air kecil, kan saya malu dilihatin *kebetulan di kamar MomDad ada toilet*,” balas pencuri itu defensif.
Lalu mbok hanya melihat aksi (konyol)nya. Pencuri itu menuju lemari, dan membongkar lemari itu.
“Mas ini sebenarnya mau ngapain sih???” tanya mbokku linglung.
“Eh.. Anu.. Umm.. Lemarinya bagus ya,” jawab si om pencuri-bodoh.
Tak lama kemudian, mbak saya menghantarkan teh itu ke atas, dan memberikannya kepada pencuri. Pencuri itu dengan cepat meminum teh-yang-masih-sangat-panas itu. Dengan bibir merah melepuh, pencuri jalan ke bawah. Tanpa pamit, pencuri itu pergi meninggalkan mbak dan mbok dengan motornya.
Suster yang pulang dari rumah tetangga untuk menemani Khonerlius Patrick bermain dengan temannya, langsung diberikan kabar oleh mbak dan mbok tentang pencuri-malang-bodoh-idiot itu.
That’s what exactly one my friend wrote an essay in the test paper about his experience. Result ? He failed.
Yup, shit happens jatuh kepada saya hari ini, tanggal 1 Juni 2010.
Pagi itu saya bangun sekitar jam 10.00, yang menurut jadwal ‘ala’ liburan saya, saya masih ada di Italia (mimpi).
Pagi itu Mommy membangunkan saya, yang masih bertualang di dunia mimpi.
“Bangun. Daddy wants you to join him to the Mal, and watch ‘Prince of the Persian’. Bang Sarjan lagi nyuci mobil. Kalo you belum bangun sebelum dia selesai nyuci mobilnya, kamu ditinggal Daddy.”
Tanpa berpikir panjang, saya langsung masuk ke kamar mandi. Sebelum membuka kran shower, saya melakukan ritual seperti biasa¬ – buka celana dan baju, duduk di kloset lima menit (tidur), perenggangan badan – barulah saya mandi.
Setelah mandi dan berpakaian, saya dan Daddy langsung masuk ke mobil.
Saya sedikit kagum melihat Daddy yang mengenakan pakaian kuning berwarna keemasan, yang dicoraki berbagai tinta hitam di atasnya – alias batik. Tak lama kemudian Daddy berkata kepada Bang Sarjan, “Kita ke Cilengsi, saya ada rapat.” Crap! Makan itu Mal !
Sejenak, saya ingin membuka mulut untuk meluncurkan berbagai kalimat sarkastis, guna menyerang Daddy supaya segera beranjak ke mal. Namun, Daddy segera menutupnya dengan berkata, “Don’t worry, we will go to ‘your heaven’ and watch the film after I finish the meeting. Alright?”
Saya yang masih diredam perasaan emosi dan kalang kabut langsung mengangguk ragu, lalu menopang dagu melihat Daddy yang sangat berantusias dengan planning-nya yang menjebak itu.
Setiap kali saya membesarkan volume radio, telepon Daddy langsung berdering, membuat saya melengos dan nyerocos berlebihan. Nada dering di HP Daddy selalu berbunyi setiap Daddy menutup komunikasi dengan rekan sebelumnya. Untungnya, saya nggak lupa membawa headset, jadi kata demi kata yang Daddy ucapkan terdengar samar-samar, diiringi lagu Stay Close Don’t Go-nya Secondhand Serenade.
Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya kita sampai pada Cilengsi Center. Daddy langsung masuk ke sebuah toko di Department Store itu.
“Hai. Di mana engkok *lupa namanya*?,” tanya Daddy kepada salah satu karyawan di toko itu, dengan bahasa Kalimantan. Karyawan itu segera memanggil bosnya. Tak lama kemudian, Daddy bertemu dengan orang yang dicarinya itu, lalu ngobrol panjang lebar dengannya. Mulai dari kerjaan di toko, politik, ekonomi, sejarah, dan lainnya. Obrolan mereka membuat otak saya terkontaminasi, karena teringat dengan pelajaran IPS di sekolah. Oleh karena itu, saya meminta uang jajan dari Daddy, lalu menelusuri Cileungsi Department Store, yang di dalamnya ada Alfamart.
Setelah saya asyik berbelanja, saya langsung masuk ke dalam mobil, membagikan minuman kepada Bang Sarjan, dan menyuruhnya untuk menyalakan AC mobil.
Di dalam mobil, kami membicarakan tentang sekolah, dan juga masa lalu kami masing-masing. Tiba-tiba perasaan nggak enak datang ketika Bang Sarjan membicarakan berita pagi ini.
”Fong, tau gak. Masa ada anak sekolah seumur kamu nyuri pepaya Rp27.000,00, dipenjara 2 tahun loh.”
Saya hanya memberikan ekspresi palsu, pura-pura terkejut. Padahal ada perasaan ndak enak di hati saya.
Setelah kurang lebih 2 jam menunggu Daddy selesai berbincang-bincang di dalam mobil, akhirnya Daddy datang dan menemui kami, yang sedang asyik ngobrol. Lalu Daddy menyuruh Bang Sarjan untuk menyetir menuju Pabrik American Standart, yang terletak di Cilengsi juga.
“Daddy! Kapan kita ke malnya? Ini udah jam 3 sore. Aku juga belum makan,” komplainku kepada Daddy. “Easy, boy. Daddy mau rapat dulu, habis itu kita baru ke Kelapa Gading, ya?” serang Daddy ringan. Mau-nggak-mau saya hanya mengangguk, yang diriasi senyum masam.
Ternyata benar seperti dugaan saya, pabrik itu tidak terlalu jauh dari Cileungsi Department Center. Hanya beberapa meter. Sama seperti tadi, Daddy hanya beranjak meninggalkan mobil, lalu sibuk dengan urusannya sendiri. Saya hanya memberikan ekspresi males-malesan.
“Semakin kaya orang, semakin banyak waktu yang kebuang, Fong. Kamu harus maklumin papa-mu,” hibur Bang Sarjan.
“Ya. Semakin tinggi jabatan orang, semakin tinggi pula hatinya,” balasku sarkastis.
Bang Sarjan hanya tertawa ringan, lalu menyenderkan kursinya ke belakang, dan tertidur lelap. Saya membuka tas yang saya bawa dari rumah, lalu mencari barang di dalam tas itu, berharap ada barang menarik yang dapat membekukan waktu dan mengusir rasa bosan ini. Ah! Novel “Refrain” karya Winna Efendi. Lalu saya tersenyum, dan membacanya.
Sekitar 3 jam berlalu, saya melihat Daddy keluar dari ruangan tempatnya rapat, dengan wajah was-was dan gelisah gak karuan. Lalu ia berjalan mondar-mandir sambil memegang telepon di telinganya. Khawatir, saya langsung membuka pintu mobil, dan menghampirinya.
”Daddy, what’s wrong?” tanyaku gelisah.
“A thief came to our house, dear. Suster tadi nelpon Daddy, and ngabarin berita itu,” jawabnya dengan suara parau.
Ah! Ternyata firasat buruk tentang maling seumuran dengan saya yang mencuri pepaya itu... ternyata, ini yang terjadi...
“Anything ok? I mean, did the thief steal something from our house? Did he hurt anyone? Pencurinya ketangkep, gak? Mommy di mana?” balasku bertubi-tubi.
Daddy hanya menunjukan jari telunjuknya di depan bibirnya, guna memberikan isyarat untuk tenang, lalu ia berbicara dengan barang yang ada di telinganya, “Halo? Ya.. Gimana sus, ada yang kecuri, gak? Bagus. Semuanya baik-baik aja, kan? Pencurinya ketangkep, gak? Apa? Tidak ketangkep? Emang kalian ada di mana waktu pencurinya datang? Encik di mana? Toko? Aduh.. Yaudah, sekarang kamu telepon encik, suruh dia pulang. Iya.. Iya... Cek lagi ada barang yang hilang atau gak.”
Daddy menutup teleponnya, lalu memaksakan seulas senyum di bibirnya, “All of your answer have been answered, right? Now, just let me finish the meeting, and we will go home, oke?” katanya ringan.
... We will go home, oke? Saya mengerjapkan mata ketika mendengar omongan Daddy yang terakhir.
“But... But.. I thought, we will go to Kelapa Gading, and watch the movie?” tanyaku polos.
“Sorry, sweetie. Next time, I promise you. You know what was going on in our house, right? Be tough, buddy,” lalu Daddy meninggalkan saya, dan pergi menuju ruangan rapat, dengan ekspresi sok-professional. Saya langsung membuka ebuddy, twitter, and facebook, dari hp saya, lalu mencurahkan perasaan dengki saya melalui sms ataupun chatting, kepada orang-orang yang saya percaya, termaksud Amelia Octaviana, dan ibunya.
Sekembalinya saya ke mobil, saya mendengarkan musik dari radio, dan melanjutkan membaca novel Refrain. Hampir sekitar 1 jam, akhirnya Daddy kembali dari meeting, dan menyuruh Bang Sarjan untuk mengendarai mobil, menuju rumah.
“Hi. Have you eaten anything? Laper, gak?” tanya Daddy.
“What do you think? I have waited for you more than 5 hours, and sekarang Daddy ngebatalin jalan-jalan ke Kelapa Gading, pake nanya udah makan atau belum lagi!” serangku tajam hingga Daddy terdiam.
“Sekarang, kamu mau makan atau gak?” tawar Daddy dengan suara sedikit berubah.
Saya hanya mengangguk malas.
Daddy tersenyum, “Sarjan, kita ke rumah makan ayam kalasan. Kamu belum makan juga kan?” ajak Daddy.
Saya ambil headset, lalu memakai alat-perangkat-telinga itu melingkari muka saya, menancapkan kabel alat itu ke handphone saya, lalu jatuh ke dalam alunan musik yang keluar dari alat itu. Perasaan yang menyelimuti saya hanyalah kesal, marah, lelah, dan kecewa. Bingung harus marah dengan Daddy, pencuri-laknat-itu, atau diri saya sendiri yang egois.
Sekitar 1 jam perjalanan menuju rumah makan, saya hanya melengos dan mengeluh melihat suasana perjalanan yang sangat ramai dan macet. AC di dalam mobil nggak mampu mendinginkan hati saya yang sedang panas. Untung selama perjalanan saya sempat mencurahkan isi hati saya (yang mulai membusuk) kepada sang mantan, dan teman-teman saya.
Setelah kami makan di tempat makan kaki lima (rasa dan kualitasnya nggak beda jauh sama bintang lima), kami langsung on the way pulang. Selama perjalanan, Daddy melakukan ritual yang selalu ia lakukan ketika berada di dalam mobil, yaitu menelpon orang-orang toko, dan pembeli untuk menjelaskan display atau barang dagangannya. Untung seperangkat headset dapat ‘membisukan’ Daddy.
Kurang lebih 15 menit, kita sampai di rumah. Daddy langsung mengecek isi rumah, dan meminta penjelasan dari suster tentang apa yang dilakukan si pencuri terhadap seisi rumah.
Saya yang mendengarkan penjelasan suster menjadi tertawa terbahak-bahak, mendengarkan kebodohan si pencuri yang gagal mencuri barang di rumah ini. Setelah itu, saya mencurahkan perasaan kesal, lelah, dan kecewa saya kepada Mommy. Ia hanya tersenyum. Tak lama kemudian, saya sadar arti senyuman itu.
“Untung kamu gak ada di rumah, honey. Kamu orangnya kan tempramental. Kalo misalkan kamu ada di rumah, terus berantem sama pencurinya, Mommy gak bisa ngebayangin deh, muka kamu sekarang gimana. Nanti udah jelek, tambah jelek...” ejek Mommy.
Saya hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Mommy, lalu berjalan menuju kamar mandi, dan SPA.
Semua rasa lelah... kecewa... dan juga kesal, hilang saat saya duduk di atas bathup dan merentangkan kaki saya ke depan. Air hangat di dalam ‘mangkok besar’ itu melenyapkan seluruh amarah saya. Busa-busa putih lembut yang mengembang itu menyapa saya, menyentuh tubuh saya pelan, hingga seluruh emosi saya tersapu hingga ke ujung-ujungnya.
Setelah saya selesai SPA, saya langsung menuju kamar, dan menyeleasikan novel Refrain, lalu menulis postingan blog tentang kejadian hari ini.
_____________________________________________________________________________________
Sebenarnya suster saya nggak ada di lokasi kejadian, tapi ia telah diceritakan lengkap oleh 2 orang mbak saya, dan imajinasi suster saya hebat, jadi ia dapat menceritakannya se-detail mungkin.
Cerita dari suster...
Pencuri melihat pintu depan rumah saya yang terbuka, dan tidak ada mobil (dikira seluruh isi rumah saya telah pergi, dan lupa mengunci pintu).
Pencuri itu seorang diri, laki-laki, lalu masuk ke dalam rumah saya.
Mbak saya menyapanya, “Halo mas. Cari siapa ya?”
Pencuri itu kaget, lalu berkata, “Ahem.. Umm.. Saya disuruh bos kamu buat ngebetulin AC di kamarnya. Tadi saya lagi di rumah temen, tapi bos kamu suruh saya cepat-cepat untuk ke rumahnya, dan membetulkan AC-nya.”
Mbak saya dengan polosnya hanya mengangguk, dan mengantarnya ke kamar MomDad, di lantai dua.
“Ini kamarnya, Mas,” tunjuk mbak saya.
“Oh, besar juga ya...” kata pencuri itu. Mbak saya hanya melihatnya mondar-mandir di kamar MomDad. Lalu mbak saya itu memasang ekspresi curiga. Sebelum mbak saya membuka mulut, pencuri itu berkata,
“Mbak, tolong ambilin saya tangga, dan buatin teh anget, dong. Saya gak bisa kerja nih kalau gak relax,” pintanya.
Dengan bodohnya, mbak saya menuruti perkataan pencuri itu.
Ketika mbak saya membuatkan teh, ia menyuruh mbak saya yang satu lagi (panggil aja mbok), untuk mengambilkan sebuah tangga.
Mbok langsung menurutinya, dan mengambilkan sebuah tangga, lalu pergi ke kamar MomDad. Sesampainya di depan pintu kamar, ternyata pencuri itu telah mengunci kamar itu.
“Mas, ini tangganya mas.” kata mbok.
Pencuri langsung membuka pintu.
Mbok bertanya, “Kok, dikunci, mas?” tanya mbok curiga.
“Oia, maaf, tadi saya numpang buang air kecil, kan saya malu dilihatin *kebetulan di kamar MomDad ada toilet*,” balas pencuri itu defensif.
Lalu mbok hanya melihat aksi (konyol)nya. Pencuri itu menuju lemari, dan membongkar lemari itu.
“Mas ini sebenarnya mau ngapain sih???” tanya mbokku linglung.
“Eh.. Anu.. Umm.. Lemarinya bagus ya,” jawab si om pencuri-bodoh.
Tak lama kemudian, mbak saya menghantarkan teh itu ke atas, dan memberikannya kepada pencuri. Pencuri itu dengan cepat meminum teh-yang-masih-sangat-panas itu. Dengan bibir merah melepuh, pencuri jalan ke bawah. Tanpa pamit, pencuri itu pergi meninggalkan mbak dan mbok dengan motornya.
Suster yang pulang dari rumah tetangga untuk menemani Khonerlius Patrick bermain dengan temannya, langsung diberikan kabar oleh mbak dan mbok tentang pencuri-malang-bodoh-idiot itu.
Revisi revisi reeeevisi !
Hell-o guys. Lama ndak ngepost, Banyak kerjaan and... Malesh. Hehe. Setelah tiga tahun berjuang di bangku SMP, dan gusar menunggu pengumuman UN (yang ini bohong, orang lagi Biology Research di Ujung Kulon), akhirnya, sekarang saya resmi duduk di bangku SMA. Menyenangkan, membanggakan, juga menyedihkan. Bangga dan senang karena sudah melampaui 3 tahun dengan sukses, dan menyedihkan yaaa.. karena harus ‘berpisah’. Tahun depan kelas yang akan saya duduki hanya berjumlah 6 orang, di antaranya, yaitu : Adrian Hartanto, Ardella Septiana Putri, Intan Putri Pratiwi, Maudy Maharani, Shabika Putri Arvijanti, dan saya sendiri. Saya harap tidak ada anak baru/tambahan, dan... kelas ini akan menyenangkan nantinya. Lebih fokus belajarnya.
Masalah Love Life? Hha. Sebenarnya dorongan saya untuk menulis blog ini, ya untuk membahas itu. Hmm, Nath ? Bukan.. Bukan dia... Saya menyimpan perasaan ke Nath sebagai seorang adik.. yang dia sendiri ndak sadar. Jadi siapa orang itu ? Haha.. Anak ini rambutnya seleher, manis, lugu,,, polos ! Terus... Peter (oops. Pinter maksudnya), cheerful, berambisi banget dalam ngejalanin sesuatu... umm, childish. Tapi sayangnya , sudah gugur cintaku dengannya. Kejadian ini tepat di tanggal saya jadian sama Nath dulu, tempat ketemuan sama Nath dulu (Kelapa Gading), and... Karena hubungan saya ke Nath.. Menyedihkan bukan ? Yaa.. terdengar aneh memang.. Tapi jauh dari itu semua.. Saya sayang sama dia, Amelia Octaviana. Gadis kelas 7 yang mampu mengait hati saya ini. Kalau boleh jujur, sampai sekarang... Setiap tombol keyboard yang saya ketik ini,,, saya masih sayang sama dia. Aku masih sayang sama kamu, Ameliamore. Tapi kalau dipikir-pikir, buat balikan sama kamu.. Aku bakal nyakitin hati kamu lagi. Udah berapa liter air mata yang jatuh dari mata lugumu selama kita jadian? Udah berapa rupiah duit yang mengalir buat sms aku ? Udah berapa jam waktu yang kamu buang buat nemenin aku ? Haha.. Aku sayang kamu. Aku gak boleh egois. Selama kamu seneng, aku juga seneng kok :’), cari cowo yang jaaauuuh lebih baik daripada Hadyus Santoso, banyak tauk. Kiss :*. “No need to say good bye..”
Heem.. Lanjut ke hoooobby. I love Kick-Ass movie !!! Terutama Chloe Grace Moretz-nya, dia main jadi Mindy Macready. Anak umur 11 tahun yang mainin peran aksi and... Glamour banget buat saya. My big fansss banget deh. Nonton deh, gak nyesel, film dewasa tapi. Nicholas Cage juga main di film ini loh. Oia, ngomongin kerlap-kerlip dunia artis, akhir-akhir ini saya punya cita-cita ingin jadi selebritis. Gimana ya kira-kira ? Daddy and Mommy ngasih respon yang positif. Temen and guru juga gak ngasih respon negatif. Tapi masalahnya, saya males ikut audisi~ Dulu pernah sih ikut audisi, and hasilnya memuaskan, tapi dengan bodohnya, saya meng-cancel tawaran itu karena waktu dan transpor yang ndak memadahi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, daripada ngebantuin Daddy and Mommy jaga toko jadi kasir (kerja), lebih baik jadi aktor kan ? God, Bless me dong !
Family ? Ya, akhir-akhir ini saya punya masalah sama Mummy (I mean, Mommy). Kita punya persepsi masing-masing yang sulit untuk disatuin karena sama-sama keras kepala. Daddy lagi asik-asikan di Shanghai, dapet tour gratis lagi. Aaargh, Jealous deh sama daddy. Henny udah libur panjang, sama seperti saya dan juga Patrick. Henny juga udah siap masuk menjadi murid SMP Global Prestasi School.
Friends ? Baik. Mereka sehat-sehat, dan mungkin sudah siap dengan sekolah baru mereka, terutama Si Besties, William Naftali, yang tergila-gila dengan gadis-gadis di sekolah barunya, Tiara Bangsa. Congrates, My Bro !
Dan akhirnya, sekian dulu post ini. Nanti kalau ada gosip atau berita baru, saya kabari lagi. Have a nice day. I want to chill out in this loooong weekend! XOXO Yay !
Masalah Love Life? Hha. Sebenarnya dorongan saya untuk menulis blog ini, ya untuk membahas itu. Hmm, Nath ? Bukan.. Bukan dia... Saya menyimpan perasaan ke Nath sebagai seorang adik.. yang dia sendiri ndak sadar. Jadi siapa orang itu ? Haha.. Anak ini rambutnya seleher, manis, lugu,,, polos ! Terus... Peter (oops. Pinter maksudnya), cheerful, berambisi banget dalam ngejalanin sesuatu... umm, childish. Tapi sayangnya , sudah gugur cintaku dengannya. Kejadian ini tepat di tanggal saya jadian sama Nath dulu, tempat ketemuan sama Nath dulu (Kelapa Gading), and... Karena hubungan saya ke Nath.. Menyedihkan bukan ? Yaa.. terdengar aneh memang.. Tapi jauh dari itu semua.. Saya sayang sama dia, Amelia Octaviana. Gadis kelas 7 yang mampu mengait hati saya ini. Kalau boleh jujur, sampai sekarang... Setiap tombol keyboard yang saya ketik ini,,, saya masih sayang sama dia. Aku masih sayang sama kamu, Ameliamore. Tapi kalau dipikir-pikir, buat balikan sama kamu.. Aku bakal nyakitin hati kamu lagi. Udah berapa liter air mata yang jatuh dari mata lugumu selama kita jadian? Udah berapa rupiah duit yang mengalir buat sms aku ? Udah berapa jam waktu yang kamu buang buat nemenin aku ? Haha.. Aku sayang kamu. Aku gak boleh egois. Selama kamu seneng, aku juga seneng kok :’), cari cowo yang jaaauuuh lebih baik daripada Hadyus Santoso, banyak tauk. Kiss :*. “No need to say good bye..”
Heem.. Lanjut ke hoooobby. I love Kick-Ass movie !!! Terutama Chloe Grace Moretz-nya, dia main jadi Mindy Macready. Anak umur 11 tahun yang mainin peran aksi and... Glamour banget buat saya. My big fansss banget deh. Nonton deh, gak nyesel, film dewasa tapi. Nicholas Cage juga main di film ini loh. Oia, ngomongin kerlap-kerlip dunia artis, akhir-akhir ini saya punya cita-cita ingin jadi selebritis. Gimana ya kira-kira ? Daddy and Mommy ngasih respon yang positif. Temen and guru juga gak ngasih respon negatif. Tapi masalahnya, saya males ikut audisi~ Dulu pernah sih ikut audisi, and hasilnya memuaskan, tapi dengan bodohnya, saya meng-cancel tawaran itu karena waktu dan transpor yang ndak memadahi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, daripada ngebantuin Daddy and Mommy jaga toko jadi kasir (kerja), lebih baik jadi aktor kan ? God, Bless me dong !
Family ? Ya, akhir-akhir ini saya punya masalah sama Mummy (I mean, Mommy). Kita punya persepsi masing-masing yang sulit untuk disatuin karena sama-sama keras kepala. Daddy lagi asik-asikan di Shanghai, dapet tour gratis lagi. Aaargh, Jealous deh sama daddy. Henny udah libur panjang, sama seperti saya dan juga Patrick. Henny juga udah siap masuk menjadi murid SMP Global Prestasi School.
Friends ? Baik. Mereka sehat-sehat, dan mungkin sudah siap dengan sekolah baru mereka, terutama Si Besties, William Naftali, yang tergila-gila dengan gadis-gadis di sekolah barunya, Tiara Bangsa. Congrates, My Bro !
Dan akhirnya, sekian dulu post ini. Nanti kalau ada gosip atau berita baru, saya kabari lagi. Have a nice day. I want to chill out in this loooong weekend! XOXO Yay !
Langganan:
Postingan (Atom)


