Ya. Inilah. Shit Happens versi 2.0.
Setelah saya menge-post¬ blog sebelum ini dan menghabiskan novel yang saya baca, sekitar jam 2 malam, telepon rumah berdering. Saya yang baru mau menidurkan diri, terpaksa bangun, mengangkat kaki, dan lari ke bawah untuk mengangkat telepon.
-percakapan di bawah ini menggunakan bahasa Kalimantan-
“(Nama Daddy)? Kamu di mana? Darurat nih!” kata seorang wanita di telepon itu.
“Umm. Ini Kiefong. Ayah sudah tidur. Saya berbicara dengan siapa ya?” tanyaku ringan.
“Kiefong! Ini tante (nama). Cepat kamu bangunkan ayah dan ibu kamu! *suara terdengar parau* A....sAp... ada... Asaaa...p !! C..pat... A....s....A.P di sini !” suara tante itu tidak terdengar jelas, direndam suara keramaian. Dan sepertinya, saya mendengar bunyi sirene, semacam ambulans, mobil polisi, atau pemadam kebakaran.
“Ha? Tante mau makan daging asap?” tanyaku kebingungan.
Mungkin tante itu pergi menyendiri, mencari tempat sepi, lalu melanjutkan percakapan, “Bukan Kiefong, di toko paman (nama) keluar asap. Cepat kamu bangunkan ayah dan ibumu!” seru tante itu.
“Apaan sih? Kok toko bisa keluar asap? Tante yang benar dong, kalau bercanda jangan kelewatan. Kalo Kiefong membangunkan ayah dan ibu, Kiefong bisa dipukul-pukul,” serangku gerang.
“Aduh. TOKO.. K.E.B.A.K.A.R.A.N. Jelas?” jawabnya singkat.
Tiba-tiba seluruh atmosfer di ruangan tamu itu terasa dingin. Tanpa saya sadari, saya melepas gagang telepon. Jeda beberapa detik. Saya mengambil telepon itu, dan menjelaskan kepada tante, bahwa saya akan memberi tahu Mom dan Daddy.
Setelah saya menutup telepon, saya berteriak histeris seperti melihat setan, ketika berlari meniti tangga, menuju kamar Mommy.
“Mommy! Daddy! Wake up Wakeee Up !!!” seruku lantang. Lalu saya menyalakan lampu.
Mommy hanya mengangkat alis, dengan kelopak mata tertutup, dilengkapi ekspresi cengo dengan mulut me-nganga. Daddy masih tertidur.
“Nita (nama mbak saya), kan saya udah bilang. Bangunin saya jam 10 pagi. Ini masih subuh kamu udah bangunin saya. Mau ngajak saya senam pagi, ya?” kata Mommy kesal.
“Mommy, ini aku. Kiefong! Cepat bangun. Di toko Paman (Nama) kebakaran! Sebelah toko kita, Mom!” jelasku langsung kepada inti.
Sejenak Mommy hanya mengangguk. Lalu, ia membuka mata dengan ekspresi kaget, “What?! Terus gimana apinya? Udah padam? (Nama Daddy), wake up! Kebakaran di toko sebelah!!!” kata Mommy was-was.
Daddy terbangun, lalu saya menceritakan segalanya. Mommy masuk ke kamar mandi untuk ganti baju, demikian Daddy. Suasana terasa menegangkan. Ini pertamakalinya saya melihat Daddy dan Mommy tampak amat-teramat panik.
Mommy menyuruh saya membuatkan saya segelas air gula. Saya membuatkannya, walaupun tak tahu untuk apa. Lalu saya memberikannya kepada Mommy, dan diminumnya. Mommy dan Daddy langsung pergi menuju ke bawah, diikuti saya.
“Mommy, can I join?” tanyaku memohon.
“Nope. Gak boleh. Kamu kan gila kalau liat api. Mommy gak bisa ngebayangin kalau kamu ikut,” lalu mereka meninggalkan saya menggunakan motor.
Dengan perasaan kecewa, saya pergi menuju kamar, dan merentangkan diri di kasur.
Tak lama kemudian, HP saya berbunyi.
“Kiefong, tolong sekarang kamu ke kamar Mommy, ambil kunci berangkas toko. Asdyg@^iygo bjaoij84t778as6df hguhs8ut88!” suara Mommy terdengar tak jelas karena suasana di sana tampaknya ramai.
Saya langsung menuju kamar orangtua saya, lalu mengambil kunci berangkas. Sejenak, saya berpikir bahwa mungkin maksud Mommy tadi, yaitu untuk meminta saya mengantarkan kunci ini kepada beliau. Saya langsung ke bawah, dan mencari sepeda motor, namun tak ada. Untung ada sepeda-tanpa-‘motor’, akhirnya saya menggoes sepeda dengan cepat, menuju toko.
Baru saya melewati gerbang di komplek perumahan, lalu sebuah motor membunyikan klaksonnya, memberhentikan saya.
“What the hell are you doing here? Mommy kan minta kamu buat siapin kuncinya, gak perlu nganterin segala,” sembur Mommy.
Saya hanya terdiam, lalu menggoes sepeda ke rumah.
Sampai rumah, Daddy dan Mommy mengambil Emergency Lamp, dan meminta kunci berangkas dari saya. Saya merasa kesal dan.... sedih.
“Do you really want to join us, son?” tanya Daddy lembut.
Saya hanya mengangguk.
“Yasudah.. Cepat ganti baju dan celana. Awas kalau kamu bikin masalah di sana, ya,” kata Mommy.
Hiip Hiip HOOORAY! Akhirnya. Api, saya datang.
Saya langsung mengganti kostum, dan duduk di jok sepeda motor, disupiri oleh Daddy. Saya hanya senyum-senyum riang berlebihan.
“Ckckck. Sejak kapan kamu jadi euforia, nak? Maybe I must bring you to visit a doctor someday,” sindir Mommy.
“Biarin. Gak tau orang lagi seneng ya?” jawabku sarkastis.
Hampir dekat dengan lokasi kebakaran, Daddy menghentikan motornya.
“Son, just go straight from here, then turn right. Kita mau ke toko lewat belakang. Paman (Nama karyawan) udah ngebukain pintu toko buat kita. We want to safe the certificate, money, and ‘friends’. Don’t non-active your phone. I will call you later, and 1 more thing, son.. Jangan terlalu dekat sama apinya,” jelas Daddy.
Saya hanya mengangguk mengerti, lalu mengikuti instruksi Daddy.
Api terlihat sangat besar. Asap mengepul di mana-mana. Terlihat orang ramai mengelilingi toko itu dari kejauhan. Sirine lampu pemadam kebakaran dan polisi meramaikan suasana. Terlihat salah seorang pemadam kebakaran terluka. Baju dan celananya terlihat amat kotor. Sejenak, saya pikir menjadi pemadam kebakaran itu asyik. Tak lama kemudian, saya lihat tante dan om saya sedang menyaksikan suasana-metropolis itu.
-percakapan di bawah ini menggunakan bahasa Kalimantan-
“Hai, tante dan om. Dari jam berapa apinya menyala?” tanyaku.
“Kiefong??? Kok belum tidur? O, iya.. Kamu yang tadi mengangkat telepon kan, ya? Ini udah dari jam 12. Oia, Tante curiga loh, Kiefong. Kemarin toko tante (Nama) baru aja kebakaran. Kamu inget kan kejadian itu? Yaa.. Walaupun kamu gak lihat langsung. Mungkin aja ya.. Pelaku kebakaran ini adalah preman. Menurutmu gimana?” jawab tanteku panjang lebar.
Saya hanya mengangguk setuju-tak-setuju, lalu meninggalkan mereka. Langkahku terhenti, tepat di depan api itu berkobar. Api itu seakan menari dengan alunan melodi yang halus, tapi dalam dinamika yang keras. Tempo gerakan api itu terasa cepat, seperti detak jantung bocah kecil yang sedang menaiki Roller Coaster. Dapat kurasakan kehangatan di antara orang-orang yang menyaksikannya... Namun ku tahu.. Jiwa mereka tidak sehangat yang dirasakan oleh raga mereka. Jiwa mereka beku, terutama kepada sang pemilik toko. Api ini diam-diam membekukan raga kami, ditemani oleh sinar bulan purnama yang tersenyum sinis.
“... Kiefong!! Kiefong!!” seru Mommy berulang kali. Ternyata saya baru sadar, Mommy telah memanggil saya yang sedang melamun berulang kali.
Tiba-tiba seorang pemadam kebakaran menarik lengan saya, lalu menyuruh saya pergi.
“Kamu ini gimana sih? Mau jadi steak bakar ya? Aduh.. Kapok deh ngajak kmau ke sini,” keluh Mommy.
“Jauh-jauh dari selang itu. Kalau selang itu dinyalakan, dan kamu menginjaknya, you will be fly away.. far far away. Tekanan di air itu tinggi banget. Jangan dekat-dekat, ya,” jelas Daddy yang tiba-tiba-tiba nongol.
“Yaaaa. Oke, oke. Daddy, someday I want to be a fire-fighter like them maybe,” pintaku polos, seperti seorang anak kecil yang mengimpikan masa depannya kelak.
“Haha, good luck. So, we don’t need to give you ‘high’ education for you, when you’re older. Kalau cuma ingin jadi pemadam kebakaran, dari SD kamu gak usah sekolah aja. Bantu Daddy Mommy kerja,” Mommy yang menjawab pertanyaanku.
Saya hanya memberikan ekspresi mati. Mommy menghiraukan saya, dan berbicara dengan seorang perempuan yang ada di sebelahnya.
Daddy berjalan pergi meninggalkan kita. Ia berjalan mendekati teman-temannya, dan menanyai apa penyebab kebakaran ini terjadi.
Selang beberapa waktu kemudian, Daddy kembali, dan menceritakan asal mula kebakaran ini terjadi. Ternyata penyebabnya adalah konsleting listrik.
Sekitar jam 5 pagi, kami semua menyaksikan api yang telah dimusnahkan. Lalu, kami pulang ke rumah. Selama perjalanan, kami semua diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sejenak, ada perasaan nggak enak yang menyelimuti hati ini.
Sampai di rumah, kami semua pergi ke kamar MomDad, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Mommy menyeduh hot chocolate, dan menyalakan TV dengan volume rendah. Daddy langsung tidur. Mommy insomnianya kambuh. Saya hanya menemaninya sebentar, lalu masuk ke kamar saya, dan... tidur.
Jam 01.00 lewat sedikit...
“Morniiiiing !!!” sapa saya kepada dunia.
Mommy dan Daddy sedang makan di ruang tamu, bersama Henny Dwi Rachmawati (adek 1), dan Khonerlius Patrick (adek 2). Tiba-tiba telepon berdering...
Mommy mengangkat telepon itu, lalu berbicara dengan suara pelan, dengan orang yang ada di dalam telepon itu..
Ketika telepon ditutup....
“(Nama Daddy), cepat kita ke toko!!! Api di toko itu belum padam! Sekarang api itu bertambah besar!! Cepat selesaikan makannya!”
... to be continue Shit Happens Versi 3.O
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar