Minggu, 17 Oktober 2010

Keseimbangan Agama

Well, most of us believe in God, although we can't prove who is he/she/it.

Dalam post kali ini, saya ingin menyinggung tentang keberadaan agama di dalam our daily life yang mendominasi kehidupan kita sehari-hari.

Semakin jauh dengan Tuhan...

Di era moderen ini, kita sadar bahwa keberadaan agama semakin menurun. Maksudnya, banyak orang yang meninggalkan agama mereka masing-masing, dan terjun sepenuhnya dengan kesibukan mereka sehari-hari.

Survey membuktikan bahwa dengan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap agama mereka masing-masing dapat meningkatkan tingkat kriminalitas di dunia, dan hal ini terbukti benar.

Tumbuhnya rasa egois dan ketidak-harmonisan dalam kehidupan. Persepsi dan prioritas yang saling bertentangan satu sama lain. Tingkat kriminalitas yang tinggi (pemerkosaan, perampokan, pemubuhan). Keserakahan dan kehausan akan duniawi (harta melimpah, seks, dll). Hal tersebut disebabkan karena kurangnya kerohanian dalam jiwa kita. Dan bayangkan apabila hal ini terjadi kepada kita semua, mungkin dalam 5 tahun saja, bumi kita bisa berubah menjadi neraka.

Rasa antusias yang berlebihan kepada Tuhan..

Walaupun banyak orang yang semakin menjauh daripada-Nya, namun di sisi lain masih banyak kaum agama yang sangat antusias dan menekuni agamanya lebih dari apa pun yang mereka punya.

Mungkin terdengar bagus, namun juga bodoh.

Di dalam kehidupan, kita memang perlu memegang pedoman nyata yang kita tekuni dan kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari, namun bukan untuk menjadi seseorang yang fanatik.

Sangat bagus dan sangat dibutuhkan sebuah pedoman, namun bukan agama.

Hal ini mengakibatkan segala sesuatu di dalam kehidupan kita harus berdasarkan agama. Ini membuat banyak kontroversi di kalangan masyarakat, terutama apabila mereka (umat) salah mengartikan maksud dari agama mereka.

Dewasa ini, banyak sekali kaum-kaum agama yang sangat menggebu-gebu dalam mewartakan 'Kerajaan Tuhan' mereka masing-masing.

Sebagai contoh, saya ambil kasus teroris-teroris yang mengebom negara kita, yang menurut mereka itu membela agama dengan membunuh bule-bule tak berdosa.

Sungguh bertentangan dengan apa yang diajarkan agama mereka, bukan?

Semua agama melarang untuk membunuh. Pemerintah pun melarang untuk membunuh, bahkan ada Hak Asasi Manusia untuk hidup. Lalu apa maksudnya tindakan para teroris yang katanya untuk membela agama mereka sendiri? Bukankah itu membuat masyarakat menilai bahwa agama mereka bukanlah agama yang baik?

Saya tidak mengatakan bahwa agama tersebut itu tidak baik. Saya yakin pasti bahwa merekalah yang kehilangan akal budi. Semua agama itu mengajarkan sesuatu yang baik, bukan?

Namun kita harus dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Bukan hanya bertindak dengan insting dan ambisi yang tidak jelas dengan merugikan orang lain.

Yang paling menyedihkan dengan kefanatikan suatu agama ialah mereka berpikir agama merekalah yang terbaik.

Hal ini membuat mereka suka mengintimidasi dan memperolok agama lain. Dan lebih parahnya lagi, hal ini dapat membuat kekacauan seperti perang di Ambon 19 Januari 1999.

Contoh yang lebih kritis lagi, yaitu agama yang melarang adanya wanita yang tidak menutup auratnya.

Apabila agama ini hanya mencantumkan kebijakan tersebut kepada semua orang yang hanya menjadi umatnya, itu tidak masalah. Namun apabila pemerintah mewajibkan semua orang mematuhi kebijakan ini, apakah itu adil?

Tuhan pun menyiptakan tubuh manusia dengan sangat indah, unik, dan memesona. Namun apabila kita menutupinya 'terlalu-rapat' itu adalah hal yang baik? Bukankah itu sama saja dengan tidak menghargai ciptaan-Nya?

Bagaimana dengan lelaki yang bercinta semalam dengan 2,3,4,5,6, atau bahkan 7 wanita sekaligus (baca: poligami)?

Memang ada agama yang mengizinkan umatnya untuk berpoligami, TAPI itu juga dengan tujuan untuk melindungi wanita-wanita yang - dikatakan kesepian, dan harus disertai batin dan rohani yang kuat.

Namun apabila kita melihat di dunia kenyataan, poligami digambarkan sebagai pemuas kenikmatan (seks) belaka. Bahkan, ada kasus di mana gadis yang baru berusia 15 tahun dipaksa menikah dengan laki-laki keladi yang sudah berusia di atas 40 tahun.

Contoh-contoh di atas memang banyak menggambarkan tokoh Islam, namun saya sama sekali tidak mengatakan bahwa agama islam itu tidak benar. Hanya ada umatnya yang salah mengerti dan mempraktekannya dengan cara yang salah.

Sama seperti agama lain, Kristen misalnya. Dikatakan bahwa 'Jangan menyembah berhala.'

Orangtua saya beragama Buddha, pernah suatu hari kejadian orangtua saya berbincang dengan orang yang beragama Kristen. Ia mengatakan bahwa kedua orangtua saya sedang berada di gerbang neraka, karena semua agama Buddha menyembah berhala (patung-patung di vihara).

Bukankah itu hal yang konyol? Hal ini sama seperti 'Apabila kamu tidak memakai celana dalam bermerk GIODARNO, kamu akan masuk neraka'.

Bahkan beberapa dari mereka suka menjelek-jelekan agama lain, dan -terlalu- mengagungkan agama mereka.

Apakah Tuhan mengajarkan kita untuk berperilaku egois dengan tidak menghargai kepunyaan orang lain?

Jadi apa yang harus kita lakukan?

Ingat teman, semua agama mengajarkan hal yang baik. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk bertindak seperti 'binatang'.

Mereka yang terlalu berlebihan dan fanatik dengan agama mereka hanyalah orang-orang yang Low Education.

Kita memang membutuhkan agama sebagai senderan hidup.

Kita harus punya jiwa rohani dan spiritual untuk melakukan sesuatu.

Apa yang harus kita punya hanyalah KESEIMBANGAN.

Not too less, but not too much.


Kita melakukan sesuatu bukan hanya dengan logika semata, namun juga dengan HATI, yang mampu menghapuskan iblis dalam jiwa kita. Itulah gunanya agama.

Kita memang memiliki akal budi, namun kita juga harus menggunakan hati nurani.

So guys, try to respect others beliefs ;).

50 Tanda Inceran Kamu Naksir Juga

Tanda-tanda kalo kamu lagi jatuh cinta, semua udah pada baca. Nah, tapi gimana caranya supaya bisa menangkap tanda-tanda kalo cintamu nggak bertepuk sebelah tangan? Atau minimal 60% inceranmu udah ada hati sama kamu lah.

Kamu bisa mencoba meningkatkan intensitas pdkt atau udah boleh tembak langsung apabila inceran kamu udah nunjukin tanda-tanda :

1. Dia rajin nelepon atau balas nge-sms kamu.
2. Dia suka cerita soal kesibukannya sama kamu
3. Nanya-nanya boleh nggak main ke rumah (dan kalo bilang boleh, pasti nyamper!)
4. Punya panggilan sayang khusus buat kamu (dan sebaliknya)
5. Minta pendapat kamu kalo pengen beli apa-apa (plus minta temenin nyari)
6. Mau dengerin lagu kesukaan kamu sekalipun alirannya beda banget
7. Nyeritain hal-hal yang paling memalukan dari dirinya
8. Nurutin saran kamu untuk berpakaian rapi atau tampil lebih fresh
9. Nggak keberatan nemenin kamu kemana aja sekalipun harus jalan kaki 10 kilo
10. Nggak pelit-pelit kalo lagi jalan bareng
11. Rajin ngajak jalan bareng, berdua tentunya!
12. Sering ngebelain kalo kamu lagi ‘dipojokin’
13. Gak keberatan ngelakuin hal-hal memalukan asal bareng sama kamu
14. Gak keberatan foto berdua (dan hasilnya dia pajang di Facebook)
15. Selalu tampil ceria and full senyum di depan kamu
16. Nggak menepis tangan saat kamu ‘gak sengaja’ gandeng tangannya
17. Pasti inget ulang tahun kamu dan selalu siap dengan hadiah
18. Bersedia ngerayain valentine bareng kamu (dengan dalih ‘sebagai sesama jomblo)
19. Selalu sedia kuping kalo kamu pengen cerita
20. Selalu sedia pulsa untuk kamu
21. Sobatnya ngajak ngobrol kamu dengan pertanyaan ‘memancing’ tentang dia
22. Saat kepergok jalan berdua sama kamu, dia nggak menyangkal saat diledek
23. Menelepon meski Cuma nanyain hal kecil seperti ‘Kapan bisa balikin CD?’
24. Hafal mampus segala kebiasaan kamu, baik yang jelek maupun yang bagus
25. Dia jadi makhluk paling pemaaf yang pernah kamu lihat di dunia terhadap kamu
26. Bersedia melakukan hal yang dia benci demi kamu
27. Bersedia berjuang memenuhi apapun keinginan kamu
28. Dia bilang kalo dia kesepian tanpa kamu
29. Dia jadi ikut menyukai apapun yang kamu suka
30. Dia sopan terhadap orang tuamu dan seluruh keluargamu tahu siapa dia
31. Selalu aware dengan perubahan mood kamu dan siap menghibur saat bete
32. Selalu punya permen, kue-kue, atau apapun untuk dibagi dengan kamu
33. Tahu pasti warna kesukaan kamu, artis kesukaan, dan semua favorit kamu
34. Jadi orang pertama yang ngajakin nonton saat ada film bagus baru keluar
35. Dia sering kepergok lagi ngeliatin kamu
36. Temennya ngasih kamu bocoran kalo dia jadi hobi cengar-cengir sendiri
37. Dia selalu punya alasan buat bisa ketemu kamu tiap hari
38. Dia tidak keberatan kamu senderin pundaknya, apalagi kalo kamu peluk
39. Semua barangnya pasti available buat kamu pinjam tanpa batas waktu
40. Selalu siap waktu energi dan modal kapanpun kamu ajak jalan
41. Kamu orang pertama yang selalu ia ajak berbagi apapun
42. Dia rela jatuh bangun hadapi rintangan supaya bisa menyenangkan kamu
43. Dia protektif dan bersedia membela kepentingan kamu
44. Dia supporter nomor satu untukmu dalam segala hal
45. Dia bisa membantumu memaksimalkan potensi terbaikmu
46. Dia tahu cara membuat kamu merasa hebat dan dihargai
47. Dia melakukan segala cara untuk menyemangati kamu saat kamu down
48. Dia pasti turut bahagia untuk setiap kesenangan yang kamu dapatkan
49. Temannya bilang dia bolak-balik ngomongin kamu terus
50. Saat kamu tembak, dia bilang iya.


(Sumber : Majalah Gadis)

6 Tingkatan Cinta

6 Tingkatan Cinta

Ada beberapa ilmuwan yang menyebutkan bahwa ketertarikan pada seseorang bisa terjadi dalam 1 sampai 4 menit sejak kita melihat orang tersebut (percayalah, saya pernah ngerasain hal ini!) Pada 4 menit pertama itu, dalam hati kita akan mempertimbangkan apa kita betul-betul tertarik padanya, ingin mengenalnya lebih jauh, atau cukup sampai disitu saja. Nah, cinta itu ada tingkatannya. Dan kita bisa aja merasakan dua tingkatan cinta dalam satu waktu. Yuk bahas!

- Ludos

Kalau kamu Cuma iseng-iseng aja dan nggak menganggap jatuh cintamu sebagai hal yang serius. Apa ya istilahnya? Bukan Monkey Love atau Puppy Love… soalnya bener-2 Cuma buat iseng. Buat sekedar ‘ngisi waktu’. Cuma suka ngeliatnya aja, sama sekali nggak ada keinginan untuk mengenal lebih jauh. Just for fun. Mungkin cinta pada seleb bisa dikategorikan jenis ini.

- Eros

Cinta yang mendalam, yang bisa membuatmu lupa diri sehingga tidak bisa tidur di waktu makan dan tak bisa makan di waktu tidur (lho?). Setiap hari rasanya ingin bertemu dengan sang pujaan hati, selalu ingat dia kapan saja di mana saja. Kamu juga berpikir kalau pacarmu adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan hanya untukmu. Yah, istilahnya.. lagi ‘hot-hot’-nya deh! Lagi demen-demennya, gitchu. Cinta jenis ini biasa terjadi kalau hubungan asmara sudah lewat dari 3 bulan. Paling banyak menjangkiti newbie couple.

- Mania

Nah, kalau kamu mulai merasa menjadi bagian dari doi, mulai posesif, dan jadi cemburuan karena takut kehilangan berarti kamu sudah terjangkit cinta jenis ini. Hati-hati, cinta jenis ini bagaikan pisau bermata dua. Salah-salah bisa jadi penyebab putusnya hubungan kalo nggak hati-hati. Soalnya, nggak ada orang yang mau di kekang dengan perasaan posesif yang berlebihan sekalipun oleh pacarnya sendiri. (Baru pacar doang udah cemburuan and sok ngatur? Beh, gimana nanti kalo udah married?)

- Storge

Cinta yang kamu rasakan setelah umur hubunganmu dengan pacarmu berusia antara 6 sampai 12 bulan. Doi sudah menjadi pacar tetapmu tapi tidak lagi membuatmu tergila-gila. Tentu saja kamu tetap memikirkannya dan senang bila dia berada di dekatmu, tapi kalo nggak juga nggak apa-apa. Pada tingkatan ini kamu juga udah merasa cukup nyaman untuk lebih terbuka pada pacarmu dan nggak keberatan berdebat dengannya. Pada tingkatan ini biasanya yang namanya jaim udah mulai meluntur. Dan biasanya sifat-sifat asli yang sempat ‘ditahan’ mulai terlihat pada phase ini. Jangan kaget kalo kamu nggak sengaja nangkep basah cowokmu ngupil ato bersendawa keras-keras di depanmu. Hal ini berarti dia sudah merasa nyaman dengan keberadaanmu di sisinya sehingga nggak canggung atau sok jaim lagi di depanmu. Dan kamu boleh melakukan hal yang sama ^^, tapi tetap jaga sopan santun!

- Pragma

Cinta gaya ini biasanya mulai terasa bila hubungan sudah berumur 12 sampai 18 bulan ke atas. Kamu nggak lagi ‘lupa makan lupa tidur’ karena doi. Tapi kamu ingin tetap bersamanya karena kamu pikir doi bisa jadi ‘teman’ yang baik yang sangat mengerti kamu. Getar-getar yang timbul saat kalian saling bertatapan atau berpegangan tangan sudah nggak kerasa lagi. Bisa dibilang ini tingkatan yang paling ‘dewasa’. Karena bagi yang sudah cukup umur, mereka bisa memutuskan untuk menikah setelah merasa mantap berada di phase ini. Karena itu biasanya para abg atau remaja di bawah usia 18 tahun sangat jarang ada yang bisa mencapai tingkatan ini. Tingkatan yang paling dewasa gitu. Lagian biasanya para abg atau remaja under 18 kan pacaran bukan dengan tujuan untuk ‘masa depan’ ^^. Jadi ngapain pacaran lama-lama selagi masih muda? :D 6 bulan cukup! Abis itu cobain yang baru!!

- Agape

Tingkatan ini disebut-sebut sebagai tingkatan cinta yang sempurna. Konon belum ada orang yang bisa sampai pada tingkatan ini. Kecuali Nabi Adam sama Siti Hawa ya? Wajarlah, jaman segitu lawan jenisnya cuma satu, gimana caranya bisa selingkuh ato ngelaba yak? Tivi ga ada, internet ngga ada, lampu ngga ada… satu-satunya jalan buat ngisi waktu adalah dengan cara meneruskan keturunan sebanyak-banyaknya!!!

(Referensi dari buku dan web browsing)

Jumat, 08 Oktober 2010

Berserk

What will you do if someone spits on you?
Apa yang bakal kalian lakukan kalo ada orang yang meludahi kalian?
Gak usah musuh deh, kalaupun saudara ngeludahin kalian juga, kalian gak bakal tinggal diam kan?

Well, this malicious accident just happened to me yesterday...
I have a friend (read : Ex-friend). He is new in our class.


Saya duduk di kursi O Level dari kelas 7. Sekarang program tersebut diubah menjadi IGCSE Cambridge Level.

Dari kelas 7 sampai kelas 9, ada 20 siswa lebih duduk di kursi O Level, sekarang tinggal 7 anak. Kita (Anak O Level), dari kelas 7 sampai kelas 10 selalu satu kelas. Mereka udah seperti keluarga buat saya (http://hadyussantoso.blogspot.com/2009/04/pisah-musnah.html)

Ketika awal masuk di kelas 10, kami bertujuh masih sama seperti dahulu, masih sering bercanda, tertawa bersama, nakal, namun ada perbedaan. Banyak kenangan yang hilang di antara kami.

Back to the topic,,
Karena merasa anggota kelas terlalu sedikit (mungkin), akhirnya sekolah saya menawarkan program ini ke kelas yang regular.
Dan DIA mencalonkan diri, dan berhasil masuk ke kelas kita sebagai murid IGCSE Cambridge Level.
Well, we don't like this.
Is that fair? Bayangkan saja, kita 3 tahun berjuang bersama, menderita, struggling buat mendapatkan sertifikat O Level, sampai di detik-detik terakhir menjelang ulangan.

DIA dengan mudahnya masuk menjadi anggota kelas kita, tanpa ngerasain 3 tahun perjuangan kita.

Kita kesel. Kita benci. Tapi kita gak komplain.
We welcomed him.

Hari-hari pun berlalu.
Setiap pelajaran, dia selalu nunjukin hidungnya (baca : arrogant).
Ada teman saya yang gak bisa, dia langsung dengan soknya berkata 'Ah, easy. Ini gampang.'

Di hari pertama aja dia udah nyebarin virus influenza ke kita. Dia bersin-bersin gak pake nutup mulut, gak pake permisi, gak pake maaf. Alhasil kita satu kelas kena flu berat.

Sebagian dari kelas kita gak suka cara DIA, dan mencoba untuk mendiskriminasi dia (mungkin). Well, saya bisa bukan salah satu dari mereka, tapi sayangnya itu dulu.

Permasalahan ini dimulai ketika saya nulis status BB (on the way to school) yang gak ada hubungannya dengan DIA. Status ini bermaksud untuk menyindir seseorang yang saya gak suka. DIA datang secara tiba-tiba, dengan menge-whips BB saya yang gak jelas. DIA bilang kalau status saya itu ridiculous, or something like that, yang dia gak suka. Saya gak ngerti maksud dia. Orang status saya juga gak ada hubugannya sama dia kok. Lho kok dia yang sewot?

Ketika saya sampai di kelas, ada 2 orang teman saya. Saya menceritakan ke mereka tentang apa yang DIA katakan kepada saya. Wajar, mereka juga udah seperti famili, kan?

Ketika DIA sampai di kelas, saya ceng-ceng in. Itu hal yang wajar dan biasa banget kan? Lagian dia duluan yang dateng, dan, secara gak langsung menyampuri urusan saya.

Apa yang terjadi, dia datang ke meja saya, lalu dengan HINA nya, saya diludahi.

Can you imagine that?

Dari situ, saya berdiri, saya teriak, saya dorong dia.

Kali itu emosi saya benar-benar meluap, namun saya masih bisa mengontrol diri.

Saya bentak dia. Saya gertak dia dengan meja yang saya pukul. Dia terdiam, terlihat ekspresi bersalah di wajahnya.

Masih banyak hal yang saya lakukan di kejadian itu. Dan, bukankah sesuatu itu wajar?

For you, Mr. Jerk :

Gw gak tau lo mau apa.

Gw gak tau lo dari planet mana.

Dari awal lo masuk ke kelas kita, jujur gw agak risih. Ralat : kita agak risih.

Lo udah tau kenapa. Setiap detik gw coba buat ngilangin itu perasaan, gw coba buat bertemen sama lo. Gw coba buat ngehirauin suara temen2 gw, yang mungkin nyoba buat ngintimidasi lo. Gw berpihak di lo - saat itu.

Apa yang udah lo lakuin ke gw itu, gada bedanya dengan 'lo ngehamilin anak orang, dan pergi'

Well, emang lo gak bisa ngejelasin lo gak suka pake kata2? Lo punya mulut kan?

Kalaupun lo mukul gw, mungkin gw masih bisa wajar. Lah ini ngeludah,,, Lo punya harga diri gak? Maksud lo apaan?

Man, lo di kelas kita BARU. Baca : BARU.

Mungkin memang lo yang terbaik di kelas kita, lo yang tercerdas dan terpintar.

But, Can you show some RESPECT?


Untung di saat itu gw masih bisa ngontrol emosi gw.

I almost killed a guy, buddy.

Itu masa lalu gw.

Kalau memang lo mau mancing masa lalu gw, jangan di sekolah...

Di sekolah gw punya titel. Gw punya nama.

Dan lo masih gw kasianin.

Kalo gw gak punya ati, lo udah gw laporin ke kepala sekolah.

Lo tau akibatnya?

Lo bisa dipenjara. Lo baca UU negara kita. Lo baca 'Hak menghargai dan tidak merendahkan derajat sesama'. Tau gak lo? Katanya anak pinter.

Ketika lo ngeludahin gw gitu aja, ketika gw bentak, dengan gampangnya lo minta maaf. Gw diemin. Dan lo berpikir 'Gw gak salah, gw udah minta maaf'

Sekarang, gw ngebunuh bapak emak lo. Gw minta maaf. Lo maafin?

Gw gak tau kelanjutannya gimana, mending lo sekarang introspeksi diri.


You're new here.

Kalo lo ngerasa pinter and ngerasa yang terbaik, gak usah sekolah. Jaga toko aja.

Gak usah masuk kelas kita.

Kalo lo ngerasa bersalah blablabla, then just shut the hell up.

Kita gak butuh lo nurut kata2 kita, kita juga tau persepsi pribadi masing2 kali. Kita cuma butuh RESPECT.

Thanks.

Selasa, 14 September 2010

Waktu berlari, liburan pun lenyap.

Wah, udah lama juga ya nggak ngepost. Haha, sibuuk.

Sibuk belajar dan sibuk bermain.

Banyak yang berubah dari hidup saya. Dari love life, hobi, cita-cita (sekarang saya mau jadi dokter~ kalo jadi artis kata Dad gak bisa kaya dan hidupnya banyak kontroversi. Hmm.

Sekarang saya udah duduk di bangku SMA. Nggak kerasa juga ya.

Perasaan kemarin baru aja ngerjain soal UN. Ngebulet-buletin kertas UN. Baru aja pulang dari Saturday Program. Dulu mengenakan baju dan celana biru 3/4, sekarang sudah menggunakan baju celana abu-abu panjang. Haha. Hidup ini terasa cepat. Gunakan waktu kita sebaik-baiknya :)

Tapi kalau dipikir-pikir, waktu itu semakin lama semakin terasa cepat. Kata orang-orang, isunya sih kiamat semakin dekat~

Sekarang saya lagi liburan Lebaran dari tanggal 10 September 2010 sampai 16 September 2010, tapi terasa cepat sekali.

Sekarang saya sedang berstatus lajang~

Ternyata kata orang-orang itu benar juga, "Ketika Anda belajar jatuh cinta, maka Anda harus belajar 'jatuh-karena-cinta'." Maksudnya, kalau kita suka sama orang, kita harus terima resiko merasakan patah hati, dll.

Kalau dipikir-pikir, jomblo itu gak buruk-buruk banget kok. Dengan status saya yang jomblo ini, saya malah lebih fokus dalam belajar dan mengerjakan sesuatu. Yaa, walaupun memang sering kesepian. Haha. Tapi gak kenapa-kenapalah. Toh jodoh gak udah ada yang ngatur kan? :D

Well, sampai sini dulu yang postingannya.

Next time
kalau ada topik yang menarik, saya post. Ini udah jam 3 malam habis ngerjain tugas sempet-sempetin ngeblogging :P



Oh I miss you, Ms Ex.

Rabu, 09 Juni 2010

Shit Happens V.2.0 - June, 02 2010

Ya. Inilah. Shit Happens versi 2.0.

Setelah saya menge-post¬ blog sebelum ini dan menghabiskan novel yang saya baca, sekitar jam 2 malam, telepon rumah berdering. Saya yang baru mau menidurkan diri, terpaksa bangun, mengangkat kaki, dan lari ke bawah untuk mengangkat telepon.

-percakapan di bawah ini menggunakan bahasa Kalimantan-

“(Nama Daddy)? Kamu di mana? Darurat nih!” kata seorang wanita di telepon itu.

“Umm. Ini Kiefong. Ayah sudah tidur. Saya berbicara dengan siapa ya?” tanyaku ringan.

“Kiefong! Ini tante (nama). Cepat kamu bangunkan ayah dan ibu kamu! *suara terdengar parau* A....sAp... ada... Asaaa...p !! C..pat... A....s....A.P di sini !” suara tante itu tidak terdengar jelas, direndam suara keramaian. Dan sepertinya, saya mendengar bunyi sirene, semacam ambulans, mobil polisi, atau pemadam kebakaran.

“Ha? Tante mau makan daging asap?” tanyaku kebingungan.
Mungkin tante itu pergi menyendiri, mencari tempat sepi, lalu melanjutkan percakapan, “Bukan Kiefong, di toko paman (nama) keluar asap. Cepat kamu bangunkan ayah dan ibumu!” seru tante itu.

“Apaan sih? Kok toko bisa keluar asap? Tante yang benar dong, kalau bercanda jangan kelewatan. Kalo Kiefong membangunkan ayah dan ibu, Kiefong bisa dipukul-pukul,” serangku gerang.

“Aduh. TOKO.. K.E.B.A.K.A.R.A.N. Jelas?” jawabnya singkat.

Tiba-tiba seluruh atmosfer di ruangan tamu itu terasa dingin. Tanpa saya sadari, saya melepas gagang telepon. Jeda beberapa detik. Saya mengambil telepon itu, dan menjelaskan kepada tante, bahwa saya akan memberi tahu Mom dan Daddy.
Setelah saya menutup telepon, saya berteriak histeris seperti melihat setan, ketika berlari meniti tangga, menuju kamar Mommy.

“Mommy! Daddy! Wake up Wakeee Up !!!” seruku lantang. Lalu saya menyalakan lampu.
Mommy hanya mengangkat alis, dengan kelopak mata tertutup, dilengkapi ekspresi cengo dengan mulut me-nganga. Daddy masih tertidur.

“Nita (nama mbak saya), kan saya udah bilang. Bangunin saya jam 10 pagi. Ini masih subuh kamu udah bangunin saya. Mau ngajak saya senam pagi, ya?” kata Mommy kesal.

“Mommy, ini aku. Kiefong! Cepat bangun. Di toko Paman (Nama) kebakaran! Sebelah toko kita, Mom!” jelasku langsung kepada inti.

Sejenak Mommy hanya mengangguk. Lalu, ia membuka mata dengan ekspresi kaget, “What?! Terus gimana apinya? Udah padam? (Nama Daddy), wake up! Kebakaran di toko sebelah!!!” kata Mommy was-was.

Daddy terbangun, lalu saya menceritakan segalanya. Mommy masuk ke kamar mandi untuk ganti baju, demikian Daddy. Suasana terasa menegangkan. Ini pertamakalinya saya melihat Daddy dan Mommy tampak amat-teramat panik.

Mommy menyuruh saya membuatkan saya segelas air gula. Saya membuatkannya, walaupun tak tahu untuk apa. Lalu saya memberikannya kepada Mommy, dan diminumnya. Mommy dan Daddy langsung pergi menuju ke bawah, diikuti saya.

“Mommy, can I join?” tanyaku memohon.

“Nope. Gak boleh. Kamu kan gila kalau liat api. Mommy gak bisa ngebayangin kalau kamu ikut,” lalu mereka meninggalkan saya menggunakan motor.
Dengan perasaan kecewa, saya pergi menuju kamar, dan merentangkan diri di kasur.
Tak lama kemudian, HP saya berbunyi.

“Kiefong, tolong sekarang kamu ke kamar Mommy, ambil kunci berangkas toko. Asdyg@^iygo bjaoij84t778as6df hguhs8ut88!” suara Mommy terdengar tak jelas karena suasana di sana tampaknya ramai.

Saya langsung menuju kamar orangtua saya, lalu mengambil kunci berangkas. Sejenak, saya berpikir bahwa mungkin maksud Mommy tadi, yaitu untuk meminta saya mengantarkan kunci ini kepada beliau. Saya langsung ke bawah, dan mencari sepeda motor, namun tak ada. Untung ada sepeda-tanpa-‘motor’, akhirnya saya menggoes sepeda dengan cepat, menuju toko.

Baru saya melewati gerbang di komplek perumahan, lalu sebuah motor membunyikan klaksonnya, memberhentikan saya.

“What the hell are you doing here? Mommy kan minta kamu buat siapin kuncinya, gak perlu nganterin segala,” sembur Mommy.

Saya hanya terdiam, lalu menggoes sepeda ke rumah.

Sampai rumah, Daddy dan Mommy mengambil Emergency Lamp, dan meminta kunci berangkas dari saya. Saya merasa kesal dan.... sedih.

“Do you really want to join us, son?” tanya Daddy lembut.
Saya hanya mengangguk.

“Yasudah.. Cepat ganti baju dan celana. Awas kalau kamu bikin masalah di sana, ya,” kata Mommy.

Hiip Hiip HOOORAY! Akhirnya. Api, saya datang.

Saya langsung mengganti kostum, dan duduk di jok sepeda motor, disupiri oleh Daddy. Saya hanya senyum-senyum riang berlebihan.

“Ckckck. Sejak kapan kamu jadi euforia, nak? Maybe I must bring you to visit a doctor someday,” sindir Mommy.

“Biarin. Gak tau orang lagi seneng ya?” jawabku sarkastis.
Hampir dekat dengan lokasi kebakaran, Daddy menghentikan motornya.

“Son, just go straight from here, then turn right. Kita mau ke toko lewat belakang. Paman (Nama karyawan) udah ngebukain pintu toko buat kita. We want to safe the certificate, money, and ‘friends’. Don’t non-active your phone. I will call you later, and 1 more thing, son.. Jangan terlalu dekat sama apinya,” jelas Daddy.

Saya hanya mengangguk mengerti, lalu mengikuti instruksi Daddy.

Api terlihat sangat besar. Asap mengepul di mana-mana. Terlihat orang ramai mengelilingi toko itu dari kejauhan. Sirine lampu pemadam kebakaran dan polisi meramaikan suasana. Terlihat salah seorang pemadam kebakaran terluka. Baju dan celananya terlihat amat kotor. Sejenak, saya pikir menjadi pemadam kebakaran itu asyik. Tak lama kemudian, saya lihat tante dan om saya sedang menyaksikan suasana-metropolis itu.

-percakapan di bawah ini menggunakan bahasa Kalimantan-

“Hai, tante dan om. Dari jam berapa apinya menyala?” tanyaku.

“Kiefong??? Kok belum tidur? O, iya.. Kamu yang tadi mengangkat telepon kan, ya? Ini udah dari jam 12. Oia, Tante curiga loh, Kiefong. Kemarin toko tante (Nama) baru aja kebakaran. Kamu inget kan kejadian itu? Yaa.. Walaupun kamu gak lihat langsung. Mungkin aja ya.. Pelaku kebakaran ini adalah preman. Menurutmu gimana?” jawab tanteku panjang lebar.

Saya hanya mengangguk setuju-tak-setuju, lalu meninggalkan mereka. Langkahku terhenti, tepat di depan api itu berkobar. Api itu seakan menari dengan alunan melodi yang halus, tapi dalam dinamika yang keras. Tempo gerakan api itu terasa cepat, seperti detak jantung bocah kecil yang sedang menaiki Roller Coaster. Dapat kurasakan kehangatan di antara orang-orang yang menyaksikannya... Namun ku tahu.. Jiwa mereka tidak sehangat yang dirasakan oleh raga mereka. Jiwa mereka beku, terutama kepada sang pemilik toko. Api ini diam-diam membekukan raga kami, ditemani oleh sinar bulan purnama yang tersenyum sinis.

“... Kiefong!! Kiefong!!” seru Mommy berulang kali. Ternyata saya baru sadar, Mommy telah memanggil saya yang sedang melamun berulang kali.

Tiba-tiba seorang pemadam kebakaran menarik lengan saya, lalu menyuruh saya pergi.

“Kamu ini gimana sih? Mau jadi steak bakar ya? Aduh.. Kapok deh ngajak kmau ke sini,” keluh Mommy.

“Jauh-jauh dari selang itu. Kalau selang itu dinyalakan, dan kamu menginjaknya, you will be fly away.. far far away. Tekanan di air itu tinggi banget. Jangan dekat-dekat, ya,” jelas Daddy yang tiba-tiba-tiba nongol.

“Yaaaa. Oke, oke. Daddy, someday I want to be a fire-fighter like them maybe,” pintaku polos, seperti seorang anak kecil yang mengimpikan masa depannya kelak.

“Haha, good luck. So, we don’t need to give you ‘high’ education for you, when you’re older. Kalau cuma ingin jadi pemadam kebakaran, dari SD kamu gak usah sekolah aja. Bantu Daddy Mommy kerja,” Mommy yang menjawab pertanyaanku.

Saya hanya memberikan ekspresi mati. Mommy menghiraukan saya, dan berbicara dengan seorang perempuan yang ada di sebelahnya.

Daddy berjalan pergi meninggalkan kita. Ia berjalan mendekati teman-temannya, dan menanyai apa penyebab kebakaran ini terjadi.

Selang beberapa waktu kemudian, Daddy kembali, dan menceritakan asal mula kebakaran ini terjadi. Ternyata penyebabnya adalah konsleting listrik.

Sekitar jam 5 pagi, kami semua menyaksikan api yang telah dimusnahkan. Lalu, kami pulang ke rumah. Selama perjalanan, kami semua diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sejenak, ada perasaan nggak enak yang menyelimuti hati ini.

Sampai di rumah, kami semua pergi ke kamar MomDad, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Mommy menyeduh hot chocolate, dan menyalakan TV dengan volume rendah. Daddy langsung tidur. Mommy insomnianya kambuh. Saya hanya menemaninya sebentar, lalu masuk ke kamar saya, dan... tidur.

Jam 01.00 lewat sedikit...

“Morniiiiing !!!” sapa saya kepada dunia.
Mommy dan Daddy sedang makan di ruang tamu, bersama Henny Dwi Rachmawati (adek 1), dan Khonerlius Patrick (adek 2). Tiba-tiba telepon berdering...
Mommy mengangkat telepon itu, lalu berbicara dengan suara pelan, dengan orang yang ada di dalam telepon itu..

Ketika telepon ditutup....

“(Nama Daddy), cepat kita ke toko!!! Api di toko itu belum padam! Sekarang api itu bertambah besar!! Cepat selesaikan makannya!”
... to be continue Shit Happens Versi 3.O

Jumat, 04 Juni 2010

Shit Happens - June, 01 2010

“Shit Happens”

That’s what exactly one my friend wrote an essay in the test paper about his experience. Result ? He failed.

Yup, shit happens jatuh kepada saya hari ini, tanggal 1 Juni 2010.

Pagi itu saya bangun sekitar jam 10.00, yang menurut jadwal ‘ala’ liburan saya, saya masih ada di Italia (mimpi).

Pagi itu Mommy membangunkan saya, yang masih bertualang di dunia mimpi.

“Bangun. Daddy wants you to join him to the Mal, and watch ‘Prince of the Persian’. Bang Sarjan lagi nyuci mobil. Kalo you belum bangun sebelum dia selesai nyuci mobilnya, kamu ditinggal Daddy.”

Tanpa berpikir panjang, saya langsung masuk ke kamar mandi. Sebelum membuka kran shower, saya melakukan ritual seperti biasa¬ – buka celana dan baju, duduk di kloset lima menit (tidur), perenggangan badan – barulah saya mandi.

Setelah mandi dan berpakaian, saya dan Daddy langsung masuk ke mobil.

Saya sedikit kagum melihat Daddy yang mengenakan pakaian kuning berwarna keemasan, yang dicoraki berbagai tinta hitam di atasnya – alias batik. Tak lama kemudian Daddy berkata kepada Bang Sarjan, “Kita ke Cilengsi, saya ada rapat.” Crap! Makan itu Mal !

Sejenak, saya ingin membuka mulut untuk meluncurkan berbagai kalimat sarkastis, guna menyerang Daddy supaya segera beranjak ke mal. Namun, Daddy segera menutupnya dengan berkata, “Don’t worry, we will go to ‘your heaven’ and watch the film after I finish the meeting. Alright?”

Saya yang masih diredam perasaan emosi dan kalang kabut langsung mengangguk ragu, lalu menopang dagu melihat Daddy yang sangat berantusias dengan planning-nya yang menjebak itu.

Setiap kali saya membesarkan volume radio, telepon Daddy langsung berdering, membuat saya melengos dan nyerocos berlebihan. Nada dering di HP Daddy selalu berbunyi setiap Daddy menutup komunikasi dengan rekan sebelumnya. Untungnya, saya nggak lupa membawa headset, jadi kata demi kata yang Daddy ucapkan terdengar samar-samar, diiringi lagu Stay Close Don’t Go-nya Secondhand Serenade.

Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya kita sampai pada Cilengsi Center. Daddy langsung masuk ke sebuah toko di Department Store itu.

“Hai. Di mana engkok *lupa namanya*?,” tanya Daddy kepada salah satu karyawan di toko itu, dengan bahasa Kalimantan. Karyawan itu segera memanggil bosnya. Tak lama kemudian, Daddy bertemu dengan orang yang dicarinya itu, lalu ngobrol panjang lebar dengannya. Mulai dari kerjaan di toko, politik, ekonomi, sejarah, dan lainnya. Obrolan mereka membuat otak saya terkontaminasi, karena teringat dengan pelajaran IPS di sekolah. Oleh karena itu, saya meminta uang jajan dari Daddy, lalu menelusuri Cileungsi Department Store, yang di dalamnya ada Alfamart.

Setelah saya asyik berbelanja, saya langsung masuk ke dalam mobil, membagikan minuman kepada Bang Sarjan, dan menyuruhnya untuk menyalakan AC mobil.
Di dalam mobil, kami membicarakan tentang sekolah, dan juga masa lalu kami masing-masing. Tiba-tiba perasaan nggak enak datang ketika Bang Sarjan membicarakan berita pagi ini.

”Fong, tau gak. Masa ada anak sekolah seumur kamu nyuri pepaya Rp27.000,00, dipenjara 2 tahun loh.”

Saya hanya memberikan ekspresi palsu, pura-pura terkejut. Padahal ada perasaan ndak enak di hati saya.

Setelah kurang lebih 2 jam menunggu Daddy selesai berbincang-bincang di dalam mobil, akhirnya Daddy datang dan menemui kami, yang sedang asyik ngobrol. Lalu Daddy menyuruh Bang Sarjan untuk menyetir menuju Pabrik American Standart, yang terletak di Cilengsi juga.

Daddy! Kapan kita ke malnya? Ini udah jam 3 sore. Aku juga belum makan,” komplainku kepada Daddy. “Easy, boy. Daddy mau rapat dulu, habis itu kita baru ke Kelapa Gading, ya?” serang Daddy ringan. Mau-nggak-mau saya hanya mengangguk, yang diriasi senyum masam.

Ternyata benar seperti dugaan saya, pabrik itu tidak terlalu jauh dari Cileungsi Department Center. Hanya beberapa meter. Sama seperti tadi, Daddy hanya beranjak meninggalkan mobil, lalu sibuk dengan urusannya sendiri. Saya hanya memberikan ekspresi males-malesan.

“Semakin kaya orang, semakin banyak waktu yang kebuang, Fong. Kamu harus maklumin papa-mu,” hibur Bang Sarjan.

“Ya. Semakin tinggi jabatan orang, semakin tinggi pula hatinya,” balasku sarkastis.

Bang Sarjan hanya tertawa ringan, lalu menyenderkan kursinya ke belakang, dan tertidur lelap. Saya membuka tas yang saya bawa dari rumah, lalu mencari barang di dalam tas itu, berharap ada barang menarik yang dapat membekukan waktu dan mengusir rasa bosan ini. Ah! Novel “Refrain” karya Winna Efendi. Lalu saya tersenyum, dan membacanya.

Sekitar 3 jam berlalu, saya melihat Daddy keluar dari ruangan tempatnya rapat, dengan wajah was-was dan gelisah gak karuan. Lalu ia berjalan mondar-mandir sambil memegang telepon di telinganya. Khawatir, saya langsung membuka pintu mobil, dan menghampirinya.

”Daddy, what’s wrong?” tanyaku gelisah.

“A thief came to our house, dear. Suster tadi nelpon Daddy, and ngabarin berita itu,” jawabnya dengan suara parau.

Ah! Ternyata firasat buruk tentang maling seumuran dengan saya yang mencuri pepaya itu... ternyata, ini yang terjadi...

“Anything ok? I mean, did the thief steal something from our house? Did he hurt anyone? Pencurinya ketangkep, gak? Mommy di mana?” balasku bertubi-tubi.

Daddy hanya menunjukan jari telunjuknya di depan bibirnya, guna memberikan isyarat untuk tenang, lalu ia berbicara dengan barang yang ada di telinganya, “Halo? Ya.. Gimana sus, ada yang kecuri, gak? Bagus. Semuanya baik-baik aja, kan? Pencurinya ketangkep, gak? Apa? Tidak ketangkep? Emang kalian ada di mana waktu pencurinya datang? Encik di mana? Toko? Aduh.. Yaudah, sekarang kamu telepon encik, suruh dia pulang. Iya.. Iya... Cek lagi ada barang yang hilang atau gak.”

Daddy menutup teleponnya, lalu memaksakan seulas senyum di bibirnya, “All of your answer have been answered, right? Now, just let me finish the meeting, and we will go home, oke?” katanya ringan.

... We will go home, oke? Saya mengerjapkan mata ketika mendengar omongan Daddy yang terakhir.

But... But.. I thought, we will go to Kelapa Gading, and watch the movie?” tanyaku polos.

Sorry, sweetie. Next time, I promise you. You know what was going on in our house, right? Be tough, buddy,” lalu Daddy meninggalkan saya, dan pergi menuju ruangan rapat, dengan ekspresi sok-professional. Saya langsung membuka ebuddy, twitter, and facebook, dari hp saya, lalu mencurahkan perasaan dengki saya melalui sms ataupun chatting, kepada orang-orang yang saya percaya, termaksud Amelia Octaviana, dan ibunya.

Sekembalinya saya ke mobil, saya mendengarkan musik dari radio, dan melanjutkan membaca novel Refrain. Hampir sekitar 1 jam, akhirnya Daddy kembali dari meeting, dan menyuruh Bang Sarjan untuk mengendarai mobil, menuju rumah.

“Hi. Have you eaten anything? Laper, gak?” tanya Daddy.

What do you think? I have waited for you more than 5 hours, and sekarang Daddy ngebatalin jalan-jalan ke Kelapa Gading, pake nanya udah makan atau belum lagi!” serangku tajam hingga Daddy terdiam.

“Sekarang, kamu mau makan atau gak?” tawar Daddy dengan suara sedikit berubah.
Saya hanya mengangguk malas.

Daddy tersenyum, “Sarjan, kita ke rumah makan ayam kalasan. Kamu belum makan juga kan?” ajak Daddy.

Saya ambil headset, lalu memakai alat-perangkat-telinga itu melingkari muka saya, menancapkan kabel alat itu ke handphone saya, lalu jatuh ke dalam alunan musik yang keluar dari alat itu. Perasaan yang menyelimuti saya hanyalah kesal, marah, lelah, dan kecewa. Bingung harus marah dengan Daddy, pencuri-laknat-itu, atau diri saya sendiri yang egois.

Sekitar 1 jam perjalanan menuju rumah makan, saya hanya melengos dan mengeluh melihat suasana perjalanan yang sangat ramai dan macet. AC di dalam mobil nggak mampu mendinginkan hati saya yang sedang panas. Untung selama perjalanan saya sempat mencurahkan isi hati saya (yang mulai membusuk) kepada sang mantan, dan teman-teman saya.

Setelah kami makan di tempat makan kaki lima (rasa dan kualitasnya nggak beda jauh sama bintang lima), kami langsung on the way pulang. Selama perjalanan, Daddy melakukan ritual yang selalu ia lakukan ketika berada di dalam mobil, yaitu menelpon orang-orang toko, dan pembeli untuk menjelaskan display atau barang dagangannya. Untung seperangkat headset dapat ‘membisukan’ Daddy.

Kurang lebih 15 menit, kita sampai di rumah. Daddy langsung mengecek isi rumah, dan meminta penjelasan dari suster tentang apa yang dilakukan si pencuri terhadap seisi rumah.

Saya yang mendengarkan penjelasan suster menjadi tertawa terbahak-bahak, mendengarkan kebodohan si pencuri yang gagal mencuri barang di rumah ini. Setelah itu, saya mencurahkan perasaan kesal, lelah, dan kecewa saya kepada Mommy. Ia hanya tersenyum. Tak lama kemudian, saya sadar arti senyuman itu.

“Untung kamu gak ada di rumah, honey. Kamu orangnya kan tempramental. Kalo misalkan kamu ada di rumah, terus berantem sama pencurinya, Mommy gak bisa ngebayangin deh, muka kamu sekarang gimana. Nanti udah jelek, tambah jelek...” ejek Mommy.

Saya hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Mommy, lalu berjalan menuju kamar mandi, dan SPA.

Semua rasa lelah... kecewa... dan juga kesal, hilang saat saya duduk di atas bathup dan merentangkan kaki saya ke depan. Air hangat di dalam ‘mangkok besar’ itu melenyapkan seluruh amarah saya. Busa-busa putih lembut yang mengembang itu menyapa saya, menyentuh tubuh saya pelan, hingga seluruh emosi saya tersapu hingga ke ujung-ujungnya.

Setelah saya selesai SPA, saya langsung menuju kamar, dan menyeleasikan novel Refrain, lalu menulis postingan blog tentang kejadian hari ini.
_____________________________________________________________________________________

Sebenarnya suster saya nggak ada di lokasi kejadian, tapi ia telah diceritakan lengkap oleh 2 orang mbak saya, dan imajinasi suster saya hebat, jadi ia dapat menceritakannya se-detail mungkin.

Cerita dari suster...

Pencuri melihat pintu depan rumah saya yang terbuka, dan tidak ada mobil (dikira seluruh isi rumah saya telah pergi, dan lupa mengunci pintu).

Pencuri itu seorang diri, laki-laki, lalu masuk ke dalam rumah saya.

Mbak saya menyapanya, “Halo mas. Cari siapa ya?”

Pencuri itu kaget, lalu berkata, “Ahem.. Umm.. Saya disuruh bos kamu buat ngebetulin AC di kamarnya. Tadi saya lagi di rumah temen, tapi bos kamu suruh saya cepat-cepat untuk ke rumahnya, dan membetulkan AC-nya.”

Mbak saya dengan polosnya hanya mengangguk, dan mengantarnya ke kamar MomDad, di lantai dua.

“Ini kamarnya, Mas,” tunjuk mbak saya.

“Oh, besar juga ya...” kata pencuri itu. Mbak saya hanya melihatnya mondar-mandir di kamar MomDad. Lalu mbak saya itu memasang ekspresi curiga. Sebelum mbak saya membuka mulut, pencuri itu berkata,

“Mbak, tolong ambilin saya tangga, dan buatin teh anget, dong. Saya gak bisa kerja nih kalau gak relax,” pintanya.

Dengan bodohnya, mbak saya menuruti perkataan pencuri itu.

Ketika mbak saya membuatkan teh, ia menyuruh mbak saya yang satu lagi (panggil aja mbok), untuk mengambilkan sebuah tangga.

Mbok langsung menurutinya, dan mengambilkan sebuah tangga, lalu pergi ke kamar MomDad. Sesampainya di depan pintu kamar, ternyata pencuri itu telah mengunci kamar itu.

“Mas, ini tangganya mas.” kata mbok.

Pencuri langsung membuka pintu.

Mbok bertanya, “Kok, dikunci, mas?” tanya mbok curiga.

“Oia, maaf, tadi saya numpang buang air kecil, kan saya malu dilihatin *kebetulan di kamar MomDad ada toilet*,” balas pencuri itu defensif.

Lalu mbok hanya melihat aksi (konyol)nya. Pencuri itu menuju lemari, dan membongkar lemari itu.

“Mas ini sebenarnya mau ngapain sih???” tanya mbokku linglung.

“Eh.. Anu.. Umm.. Lemarinya bagus ya,” jawab si om pencuri-bodoh.

Tak lama kemudian, mbak saya menghantarkan teh itu ke atas, dan memberikannya kepada pencuri. Pencuri itu dengan cepat meminum teh-yang-masih-sangat-panas itu. Dengan bibir merah melepuh, pencuri jalan ke bawah. Tanpa pamit, pencuri itu pergi meninggalkan mbak dan mbok dengan motornya.

Suster yang pulang dari rumah tetangga untuk menemani Khonerlius Patrick bermain dengan temannya, langsung diberikan kabar oleh mbak dan mbok tentang pencuri-malang-bodoh-idiot itu.

Revisi revisi reeeevisi !

Hell-o guys. Lama ndak ngepost, Banyak kerjaan and... Malesh. Hehe. Setelah tiga tahun berjuang di bangku SMP, dan gusar menunggu pengumuman UN (yang ini bohong, orang lagi Biology Research di Ujung Kulon), akhirnya, sekarang saya resmi duduk di bangku SMA. Menyenangkan, membanggakan, juga menyedihkan. Bangga dan senang karena sudah melampaui 3 tahun dengan sukses, dan menyedihkan yaaa.. karena harus ‘berpisah’. Tahun depan kelas yang akan saya duduki hanya berjumlah 6 orang, di antaranya, yaitu : Adrian Hartanto, Ardella Septiana Putri, Intan Putri Pratiwi, Maudy Maharani, Shabika Putri Arvijanti, dan saya sendiri. Saya harap tidak ada anak baru/tambahan, dan... kelas ini akan menyenangkan nantinya. Lebih fokus belajarnya.

Masalah Love Life? Hha. Sebenarnya dorongan saya untuk menulis blog ini, ya untuk membahas itu. Hmm, Nath ? Bukan.. Bukan dia... Saya menyimpan perasaan ke Nath sebagai seorang adik.. yang dia sendiri ndak sadar. Jadi siapa orang itu ? Haha.. Anak ini rambutnya seleher, manis, lugu,,, polos ! Terus... Peter (oops. Pinter maksudnya), cheerful, berambisi banget dalam ngejalanin sesuatu... umm, childish. Tapi sayangnya , sudah gugur cintaku dengannya. Kejadian ini tepat di tanggal saya jadian sama Nath dulu, tempat ketemuan sama Nath dulu (Kelapa Gading), and... Karena hubungan saya ke Nath.. Menyedihkan bukan ? Yaa.. terdengar aneh memang.. Tapi jauh dari itu semua.. Saya sayang sama dia, Amelia Octaviana. Gadis kelas 7 yang mampu mengait hati saya ini. Kalau boleh jujur, sampai sekarang... Setiap tombol keyboard yang saya ketik ini,,, saya masih sayang sama dia. Aku masih sayang sama kamu, Ameliamore. Tapi kalau dipikir-pikir, buat balikan sama kamu.. Aku bakal nyakitin hati kamu lagi. Udah berapa liter air mata yang jatuh dari mata lugumu selama kita jadian? Udah berapa rupiah duit yang mengalir buat sms aku ? Udah berapa jam waktu yang kamu buang buat nemenin aku ? Haha.. Aku sayang kamu. Aku gak boleh egois. Selama kamu seneng, aku juga seneng kok :’), cari cowo yang jaaauuuh lebih baik daripada Hadyus Santoso, banyak tauk. Kiss :*. “No need to say good bye..”

Heem.. Lanjut ke hoooobby. I love Kick-Ass movie !!! Terutama Chloe Grace Moretz-nya, dia main jadi Mindy Macready. Anak umur 11 tahun yang mainin peran aksi and... Glamour banget buat saya. My big fansss banget deh. Nonton deh, gak nyesel, film dewasa tapi. Nicholas Cage juga main di film ini loh. Oia, ngomongin kerlap-kerlip dunia artis, akhir-akhir ini saya punya cita-cita ingin jadi selebritis. Gimana ya kira-kira ? Daddy and Mommy ngasih respon yang positif. Temen and guru juga gak ngasih respon negatif. Tapi masalahnya, saya males ikut audisi~ Dulu pernah sih ikut audisi, and hasilnya memuaskan, tapi dengan bodohnya, saya meng-cancel tawaran itu karena waktu dan transpor yang ndak memadahi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, daripada ngebantuin Daddy and Mommy jaga toko jadi kasir (kerja), lebih baik jadi aktor kan ? God, Bless me dong !

Family ? Ya, akhir-akhir ini saya punya masalah sama Mummy (I mean, Mommy). Kita punya persepsi masing-masing yang sulit untuk disatuin karena sama-sama keras kepala. Daddy lagi asik-asikan di Shanghai, dapet tour gratis lagi. Aaargh, Jealous deh sama daddy. Henny udah libur panjang, sama seperti saya dan juga Patrick. Henny juga udah siap masuk menjadi murid SMP Global Prestasi School.

Friends ? Baik. Mereka sehat-sehat, dan mungkin sudah siap dengan sekolah baru mereka, terutama Si Besties, William Naftali, yang tergila-gila dengan gadis-gadis di sekolah barunya, Tiara Bangsa. Congrates, My Bro !

Dan akhirnya, sekian dulu post ini. Nanti kalau ada gosip atau berita baru, saya kabari lagi. Have a nice day. I want to chill out in this loooong weekend! XOXO Yay !

Sabtu, 27 Maret 2010

UN, We're coming !

UN udah deket. That’s all. Sepintas ketika saya melihat jalan serta liku-liku yang sudah saya tempuh selama tiga tahun, saya merasa bangga, senang, sedih, dll. Banyak kenangan yang udah terukir buat saya. Hal ini juga memacu saya untuk meraih yang terbaik buat saya, tapi tahun depan saya tidak akan pergi jauh dari genggaman kenangan saya, saya masih melanjutkan sekolah di SMA Global. Kenapa ? Yap, Exactly saya gagal masuk Tiara Bangsa. Sebenarnya bukan kata “GAGAL” yang tepat diutarakan, melainkan “Tidak Jodoh.” Itu saja. Itu berarti saya akan bertemu dengan HANYA beberapa teman dari kelas 9E, karena kebanyakan dari mereka banyak yang pindah sekolah. Senang sekaligus sedih yang saya rasakan. Saya senang karena saya akan lebih maju dan lebih fokus apabila kelas lebih sedikit, dan sedih karena kehilangan mereka, terutama besties saya, William Naftali, Ricky, dkk.

Back to the topic, terkadang diwaktu masa Persiapan UN, saya merasa sangat berambisi untuk meraih yang terbaik, namun ketika hasil yang saya targetkan tidak tercapai (ketika TO), saya jatuh. Memang, masa lalu saya tidak sebaik masa sekarang. Di kelas 7 saya masih tidak ada kesadaran untuk meraih yang terbaik. Apalagi kelas 8, zaman dimana “Bencana” menyapa hidup saya. Namun seketika itu juga, saya ingat 3 tahun yang udah saya tempuh. Dari awal saya masih sangat polos. Belum ada tanda puber sama sekali, sampai sekarang, sudah menjadi lelaki yang mulai tumbuh jenggot.

Kali ini, dibantu semua kasih sayang dan usaha guru-guru yang dengan tulus mengajar saya, saya merasa bahwa menjadi yang terbaik memang kewajiban dan hak saya.

Ketika pembekalan UN dan doa bersama, saya sadar. Bahwa sebenarnya kita belajar bukan sekedar menjadi yang terbaik, melainkan juga menyerap pelajaran dan ilmu yang diberikan guru-guru kita. Saya sadar selama ini saya salah karena hanya menggantungkan pada ranking. Mungkin memang terlambat untuk menyadarinya, tapi saya percaya, terlambat bukan berarti berakhir. Masih ada waktu untuk bangun dan berjalan menuju tol kesuksesan. Ketika doa diutarakan, jiwa saya mengalir, jujur memang Tuhan tidak dekat dengan saya, dan saya pun tidak dekat dengan-Nya. Namun ketika doa-doa diutarakan, saya merasakan Kebesaran dan Keagungannya.

Terimakasih saya utarakan buat guru-guru tercinta yang selalu mendampingi kami dengan sabar dan tulus.

Guru :

Bahasa Indonesia : Ms Diana Leroy Simanjuntak, Mr Riza Sukma

Bahasa Inggris : Ms Yuliani, Ms Mynarni Hthn

Matematika : Ms Agustina Benata, Mr Tumarsan, Ms Nita, Ms Reni

Biology : Ms Elisabeth Endah , Mr Bawono Joshua

Fisika : Ms Krista Natalia, Mr Andre Zhaga

Dan lainnya : Ms Sandra Kartika, Mr Primus Kasimo, dll.

Kami gak bisa berjanji untuk menjadi yang terbaik, tapi kami kan selalu berjanji tuk BERUSAHA menjadi yang terbaik. Walaupun mungkin hanya mulut manis kami yang terasa, tapi jauh dalam lubuk hati kami, kami memiliki kunci prioritas tuk membuktikan bahwa memang kami yang terbaik.

Dan doa kami selalu menyertai kalian, guru-guru yang selalu setia dalam membimbing kami, semoga kalian selalu diberikan roh kebahagiaan dan kesejahteraan.

Doakan kami, karena doa kalian sangat berarti buat kami. Termaksud orang tua – ai atio, doain Kif ya.

Thx semuanya. Tiga tahun akan kami hadapi dalam waktu 4 hari.

Tuhan memberkati. Amin.

Jumat, 15 Januari 2010

Tiara Bangsa

Yapp..

Sesuai namanya, sebuah tiara..

Haaah.. Cerita ini berawal dari orang tua teman saya yang mempromosikan sekolah ini kepada kami - saya dan orangtua saya.

Di saat kebingungan kami mencari sekolah untuk melanjutkan kursi pendidikan saya di SMA, muncul mereka yang dengan acuh tak acuh nya membantu kami dan menawarkan sekolah tersebut kepada kami.

Di pandangan saya, itu hanyalah sekolah biasa yang levelnya tidak jauh beda seperti Global Prestasi School, SPH, dll.

Namun ketika saya melihat foto yang ditunjukkan oleh teman (sahabat) dan cerita yang dibawakannya, saya mulai tertarik dengan sekolah tersebut.

Ceritanya pun dimulai.

Saat itu saya masih netral dengan segala tawaran yang disampaikan pribadi kepada saya.

Alasan saya pindah sekolah sebenarnya bukan karena saya membenci sekolah saya/teman-teman saya/bahkan gurunya. Saya hanya merasa bosan dengan suasana yang itu-itu saja.

Alhasil, tawaran mereka pun saya terima dengan senang hati - Makasih ya...

Ternyata yang turut mengikuti tes bukan hanya saya, tapi ada satu orang lagi dan dia juga teman baik saya. Semangat saya untuk duduk di sekolah itu pun semakin besar. Kiat dan tekat saya pun meluap, hingga saya belajar dengan guru les selama dua minggu penuh yang berdurasi 2 1/2 jam 1 harinya - buat saya ini memang berlebihan, karena saya tidak pernah mendapat asumsi pendidikan dari luar sekolah, khusus nya les.

Sampai lah pada hari-H nya, saya pun mengikuti tes nya.

Ketika pertama kali menginjak sekolah tersebut, saya langsung terpana sekali dengan sekolah tersebut.

Nuansa alam yang memang benar-benar hidup. Suasana yang unik dan asri. Dan jujur, menurut saya, itu sekolah terbaik yang pernah saya lihat.

Ketika saya memasuki ruang tes, ada sekitar 20 siswa yang sudah siap dengan peralatan mekanis ala tes mereka.

Saya datang terlambat dengan teman saya karena kami sedang asyik mengelilingi sekolah tersebut.

Ketika lembar pertama saya terima - Matematika.

Saya masih bisa berlagak tenang selayaknya pelajar profesional.

Ketika lembar kedua saya buka..

Keringat dingin sudah mulai bercucuran dari hulu di kening saya.

Ketika lembar ketiga dan seterusnya saya buka..

Saya hanya diam.

Diam menanti jawaban yang datang dari sorga ala ajaib.

Matematika pun selesai.

Saya langsung lari ke kantin bersama teman saya.

Saya mendiskusikan soal matematika yang sangat "menarik" yang sudah kami kerjakan tadi.

Dinginnya AC kantin perlahan meluluhkan perasaan capek kami.

Hingga kami bisa tersenyum kembali dengan meratapi suasana asing, namun damai dan ramai itu.

Tes English dimulai.

Saya bisa tersenyum selebar-lebarnya karena menurut saya, It's too easy.

Yap, Optimistik untuk diterima bagi saya cukup besar.

Hingga saya pulang dengan perasaan tenang yang mungkin bisa dibilang berlebihan.

Beberapa minggu pun berlalu.

Orangtua saya memberitahukan bahwa saya TIDAK diterima.

Waw.

Sekelebat peristiwa menghampiri saya.

Orangtua teman saya yang sangat berharap saya bisa masuk ke sekolah tersebut dan melampaui jalan kesuksesan,

Orantua saya yang sangat berharap saya bisa menduduki sekolah tersebut.

Support guru dan teman-teman saya.

Musnah seketika.

Saya jatuh.

Dan saya merasa bahwa saya sangat bodoh.

Hari-hari pun berlalu,

Keajaiban datang.

Pihak Tiara Bangsa menelpon saya dan berkata bahwa ada kesempatan bagi saya untuk mengikuti tes kedua.

Ada yang bilang, sebagian besar keajaiban ini dibantu oleh orangtua dari teman saya - makasih banyak.

Tes tersebut akan diadakan tanggal 20 Februari 2010.

Dan ini kesempatan terakhir untuk saya.

Hanya saya yang mendapatkan kesempatan ini.

Seluruh gelombang saya telah gagal - tidak ada yang berhasil/lulus dari tes di Tiara Bangsa,

Gelombang dari teman saya pun hanya dia yang diterima (dari 25 siswa).

1 hal yang selalu terngiang di benak saya.

Tiara Bangsa = Sekolah Elite.

Sekolah yang benar-benar menunjukkan ke profesionalan nya.

Dengar-dengar, ada jutawan yang menyogok pihak Tiara Bangsa untuk memasukkan anaknya ke dalam sekolah tersebut, namun ditolak.

Sangat berbeda dengan sekolah lain, yang sibuk open house untuk menarik pihak luar, etc.

Dan ini merupakan kehormatan tersendiri bagi saya karena saya mendapatkan kesempatan seperti ini.

Saya berharap, sangat berharap sekali, saya dapat melakukan tes ke 2 tersebut dengan segenap kemampuan maksimal saya dan membuahkan hasil yang memuaskan.

Apabila saya tidak diterima, ya, mungkin memang bukan itu jodoh saya.

Saya akan tunjukkan kepada orangtua teman saya, sahabat saya, orangtua saya, dan teman-teman sekalian, bahwa saya mampu melakukan yang terbaik.

Amin.