Jumat, 04 Juni 2010

Shit Happens - June, 01 2010

“Shit Happens”

That’s what exactly one my friend wrote an essay in the test paper about his experience. Result ? He failed.

Yup, shit happens jatuh kepada saya hari ini, tanggal 1 Juni 2010.

Pagi itu saya bangun sekitar jam 10.00, yang menurut jadwal ‘ala’ liburan saya, saya masih ada di Italia (mimpi).

Pagi itu Mommy membangunkan saya, yang masih bertualang di dunia mimpi.

“Bangun. Daddy wants you to join him to the Mal, and watch ‘Prince of the Persian’. Bang Sarjan lagi nyuci mobil. Kalo you belum bangun sebelum dia selesai nyuci mobilnya, kamu ditinggal Daddy.”

Tanpa berpikir panjang, saya langsung masuk ke kamar mandi. Sebelum membuka kran shower, saya melakukan ritual seperti biasa¬ – buka celana dan baju, duduk di kloset lima menit (tidur), perenggangan badan – barulah saya mandi.

Setelah mandi dan berpakaian, saya dan Daddy langsung masuk ke mobil.

Saya sedikit kagum melihat Daddy yang mengenakan pakaian kuning berwarna keemasan, yang dicoraki berbagai tinta hitam di atasnya – alias batik. Tak lama kemudian Daddy berkata kepada Bang Sarjan, “Kita ke Cilengsi, saya ada rapat.” Crap! Makan itu Mal !

Sejenak, saya ingin membuka mulut untuk meluncurkan berbagai kalimat sarkastis, guna menyerang Daddy supaya segera beranjak ke mal. Namun, Daddy segera menutupnya dengan berkata, “Don’t worry, we will go to ‘your heaven’ and watch the film after I finish the meeting. Alright?”

Saya yang masih diredam perasaan emosi dan kalang kabut langsung mengangguk ragu, lalu menopang dagu melihat Daddy yang sangat berantusias dengan planning-nya yang menjebak itu.

Setiap kali saya membesarkan volume radio, telepon Daddy langsung berdering, membuat saya melengos dan nyerocos berlebihan. Nada dering di HP Daddy selalu berbunyi setiap Daddy menutup komunikasi dengan rekan sebelumnya. Untungnya, saya nggak lupa membawa headset, jadi kata demi kata yang Daddy ucapkan terdengar samar-samar, diiringi lagu Stay Close Don’t Go-nya Secondhand Serenade.

Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya kita sampai pada Cilengsi Center. Daddy langsung masuk ke sebuah toko di Department Store itu.

“Hai. Di mana engkok *lupa namanya*?,” tanya Daddy kepada salah satu karyawan di toko itu, dengan bahasa Kalimantan. Karyawan itu segera memanggil bosnya. Tak lama kemudian, Daddy bertemu dengan orang yang dicarinya itu, lalu ngobrol panjang lebar dengannya. Mulai dari kerjaan di toko, politik, ekonomi, sejarah, dan lainnya. Obrolan mereka membuat otak saya terkontaminasi, karena teringat dengan pelajaran IPS di sekolah. Oleh karena itu, saya meminta uang jajan dari Daddy, lalu menelusuri Cileungsi Department Store, yang di dalamnya ada Alfamart.

Setelah saya asyik berbelanja, saya langsung masuk ke dalam mobil, membagikan minuman kepada Bang Sarjan, dan menyuruhnya untuk menyalakan AC mobil.
Di dalam mobil, kami membicarakan tentang sekolah, dan juga masa lalu kami masing-masing. Tiba-tiba perasaan nggak enak datang ketika Bang Sarjan membicarakan berita pagi ini.

”Fong, tau gak. Masa ada anak sekolah seumur kamu nyuri pepaya Rp27.000,00, dipenjara 2 tahun loh.”

Saya hanya memberikan ekspresi palsu, pura-pura terkejut. Padahal ada perasaan ndak enak di hati saya.

Setelah kurang lebih 2 jam menunggu Daddy selesai berbincang-bincang di dalam mobil, akhirnya Daddy datang dan menemui kami, yang sedang asyik ngobrol. Lalu Daddy menyuruh Bang Sarjan untuk menyetir menuju Pabrik American Standart, yang terletak di Cilengsi juga.

Daddy! Kapan kita ke malnya? Ini udah jam 3 sore. Aku juga belum makan,” komplainku kepada Daddy. “Easy, boy. Daddy mau rapat dulu, habis itu kita baru ke Kelapa Gading, ya?” serang Daddy ringan. Mau-nggak-mau saya hanya mengangguk, yang diriasi senyum masam.

Ternyata benar seperti dugaan saya, pabrik itu tidak terlalu jauh dari Cileungsi Department Center. Hanya beberapa meter. Sama seperti tadi, Daddy hanya beranjak meninggalkan mobil, lalu sibuk dengan urusannya sendiri. Saya hanya memberikan ekspresi males-malesan.

“Semakin kaya orang, semakin banyak waktu yang kebuang, Fong. Kamu harus maklumin papa-mu,” hibur Bang Sarjan.

“Ya. Semakin tinggi jabatan orang, semakin tinggi pula hatinya,” balasku sarkastis.

Bang Sarjan hanya tertawa ringan, lalu menyenderkan kursinya ke belakang, dan tertidur lelap. Saya membuka tas yang saya bawa dari rumah, lalu mencari barang di dalam tas itu, berharap ada barang menarik yang dapat membekukan waktu dan mengusir rasa bosan ini. Ah! Novel “Refrain” karya Winna Efendi. Lalu saya tersenyum, dan membacanya.

Sekitar 3 jam berlalu, saya melihat Daddy keluar dari ruangan tempatnya rapat, dengan wajah was-was dan gelisah gak karuan. Lalu ia berjalan mondar-mandir sambil memegang telepon di telinganya. Khawatir, saya langsung membuka pintu mobil, dan menghampirinya.

”Daddy, what’s wrong?” tanyaku gelisah.

“A thief came to our house, dear. Suster tadi nelpon Daddy, and ngabarin berita itu,” jawabnya dengan suara parau.

Ah! Ternyata firasat buruk tentang maling seumuran dengan saya yang mencuri pepaya itu... ternyata, ini yang terjadi...

“Anything ok? I mean, did the thief steal something from our house? Did he hurt anyone? Pencurinya ketangkep, gak? Mommy di mana?” balasku bertubi-tubi.

Daddy hanya menunjukan jari telunjuknya di depan bibirnya, guna memberikan isyarat untuk tenang, lalu ia berbicara dengan barang yang ada di telinganya, “Halo? Ya.. Gimana sus, ada yang kecuri, gak? Bagus. Semuanya baik-baik aja, kan? Pencurinya ketangkep, gak? Apa? Tidak ketangkep? Emang kalian ada di mana waktu pencurinya datang? Encik di mana? Toko? Aduh.. Yaudah, sekarang kamu telepon encik, suruh dia pulang. Iya.. Iya... Cek lagi ada barang yang hilang atau gak.”

Daddy menutup teleponnya, lalu memaksakan seulas senyum di bibirnya, “All of your answer have been answered, right? Now, just let me finish the meeting, and we will go home, oke?” katanya ringan.

... We will go home, oke? Saya mengerjapkan mata ketika mendengar omongan Daddy yang terakhir.

But... But.. I thought, we will go to Kelapa Gading, and watch the movie?” tanyaku polos.

Sorry, sweetie. Next time, I promise you. You know what was going on in our house, right? Be tough, buddy,” lalu Daddy meninggalkan saya, dan pergi menuju ruangan rapat, dengan ekspresi sok-professional. Saya langsung membuka ebuddy, twitter, and facebook, dari hp saya, lalu mencurahkan perasaan dengki saya melalui sms ataupun chatting, kepada orang-orang yang saya percaya, termaksud Amelia Octaviana, dan ibunya.

Sekembalinya saya ke mobil, saya mendengarkan musik dari radio, dan melanjutkan membaca novel Refrain. Hampir sekitar 1 jam, akhirnya Daddy kembali dari meeting, dan menyuruh Bang Sarjan untuk mengendarai mobil, menuju rumah.

“Hi. Have you eaten anything? Laper, gak?” tanya Daddy.

What do you think? I have waited for you more than 5 hours, and sekarang Daddy ngebatalin jalan-jalan ke Kelapa Gading, pake nanya udah makan atau belum lagi!” serangku tajam hingga Daddy terdiam.

“Sekarang, kamu mau makan atau gak?” tawar Daddy dengan suara sedikit berubah.
Saya hanya mengangguk malas.

Daddy tersenyum, “Sarjan, kita ke rumah makan ayam kalasan. Kamu belum makan juga kan?” ajak Daddy.

Saya ambil headset, lalu memakai alat-perangkat-telinga itu melingkari muka saya, menancapkan kabel alat itu ke handphone saya, lalu jatuh ke dalam alunan musik yang keluar dari alat itu. Perasaan yang menyelimuti saya hanyalah kesal, marah, lelah, dan kecewa. Bingung harus marah dengan Daddy, pencuri-laknat-itu, atau diri saya sendiri yang egois.

Sekitar 1 jam perjalanan menuju rumah makan, saya hanya melengos dan mengeluh melihat suasana perjalanan yang sangat ramai dan macet. AC di dalam mobil nggak mampu mendinginkan hati saya yang sedang panas. Untung selama perjalanan saya sempat mencurahkan isi hati saya (yang mulai membusuk) kepada sang mantan, dan teman-teman saya.

Setelah kami makan di tempat makan kaki lima (rasa dan kualitasnya nggak beda jauh sama bintang lima), kami langsung on the way pulang. Selama perjalanan, Daddy melakukan ritual yang selalu ia lakukan ketika berada di dalam mobil, yaitu menelpon orang-orang toko, dan pembeli untuk menjelaskan display atau barang dagangannya. Untung seperangkat headset dapat ‘membisukan’ Daddy.

Kurang lebih 15 menit, kita sampai di rumah. Daddy langsung mengecek isi rumah, dan meminta penjelasan dari suster tentang apa yang dilakukan si pencuri terhadap seisi rumah.

Saya yang mendengarkan penjelasan suster menjadi tertawa terbahak-bahak, mendengarkan kebodohan si pencuri yang gagal mencuri barang di rumah ini. Setelah itu, saya mencurahkan perasaan kesal, lelah, dan kecewa saya kepada Mommy. Ia hanya tersenyum. Tak lama kemudian, saya sadar arti senyuman itu.

“Untung kamu gak ada di rumah, honey. Kamu orangnya kan tempramental. Kalo misalkan kamu ada di rumah, terus berantem sama pencurinya, Mommy gak bisa ngebayangin deh, muka kamu sekarang gimana. Nanti udah jelek, tambah jelek...” ejek Mommy.

Saya hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Mommy, lalu berjalan menuju kamar mandi, dan SPA.

Semua rasa lelah... kecewa... dan juga kesal, hilang saat saya duduk di atas bathup dan merentangkan kaki saya ke depan. Air hangat di dalam ‘mangkok besar’ itu melenyapkan seluruh amarah saya. Busa-busa putih lembut yang mengembang itu menyapa saya, menyentuh tubuh saya pelan, hingga seluruh emosi saya tersapu hingga ke ujung-ujungnya.

Setelah saya selesai SPA, saya langsung menuju kamar, dan menyeleasikan novel Refrain, lalu menulis postingan blog tentang kejadian hari ini.
_____________________________________________________________________________________

Sebenarnya suster saya nggak ada di lokasi kejadian, tapi ia telah diceritakan lengkap oleh 2 orang mbak saya, dan imajinasi suster saya hebat, jadi ia dapat menceritakannya se-detail mungkin.

Cerita dari suster...

Pencuri melihat pintu depan rumah saya yang terbuka, dan tidak ada mobil (dikira seluruh isi rumah saya telah pergi, dan lupa mengunci pintu).

Pencuri itu seorang diri, laki-laki, lalu masuk ke dalam rumah saya.

Mbak saya menyapanya, “Halo mas. Cari siapa ya?”

Pencuri itu kaget, lalu berkata, “Ahem.. Umm.. Saya disuruh bos kamu buat ngebetulin AC di kamarnya. Tadi saya lagi di rumah temen, tapi bos kamu suruh saya cepat-cepat untuk ke rumahnya, dan membetulkan AC-nya.”

Mbak saya dengan polosnya hanya mengangguk, dan mengantarnya ke kamar MomDad, di lantai dua.

“Ini kamarnya, Mas,” tunjuk mbak saya.

“Oh, besar juga ya...” kata pencuri itu. Mbak saya hanya melihatnya mondar-mandir di kamar MomDad. Lalu mbak saya itu memasang ekspresi curiga. Sebelum mbak saya membuka mulut, pencuri itu berkata,

“Mbak, tolong ambilin saya tangga, dan buatin teh anget, dong. Saya gak bisa kerja nih kalau gak relax,” pintanya.

Dengan bodohnya, mbak saya menuruti perkataan pencuri itu.

Ketika mbak saya membuatkan teh, ia menyuruh mbak saya yang satu lagi (panggil aja mbok), untuk mengambilkan sebuah tangga.

Mbok langsung menurutinya, dan mengambilkan sebuah tangga, lalu pergi ke kamar MomDad. Sesampainya di depan pintu kamar, ternyata pencuri itu telah mengunci kamar itu.

“Mas, ini tangganya mas.” kata mbok.

Pencuri langsung membuka pintu.

Mbok bertanya, “Kok, dikunci, mas?” tanya mbok curiga.

“Oia, maaf, tadi saya numpang buang air kecil, kan saya malu dilihatin *kebetulan di kamar MomDad ada toilet*,” balas pencuri itu defensif.

Lalu mbok hanya melihat aksi (konyol)nya. Pencuri itu menuju lemari, dan membongkar lemari itu.

“Mas ini sebenarnya mau ngapain sih???” tanya mbokku linglung.

“Eh.. Anu.. Umm.. Lemarinya bagus ya,” jawab si om pencuri-bodoh.

Tak lama kemudian, mbak saya menghantarkan teh itu ke atas, dan memberikannya kepada pencuri. Pencuri itu dengan cepat meminum teh-yang-masih-sangat-panas itu. Dengan bibir merah melepuh, pencuri jalan ke bawah. Tanpa pamit, pencuri itu pergi meninggalkan mbak dan mbok dengan motornya.

Suster yang pulang dari rumah tetangga untuk menemani Khonerlius Patrick bermain dengan temannya, langsung diberikan kabar oleh mbak dan mbok tentang pencuri-malang-bodoh-idiot itu.

2 komentar:

me, myself and them mengatakan...

Wew....ternyata ceritamu bagus, kapan* ikut lomba bikin cerpen aja, fong...drpd cuman di-publish dsini. Kan lumayan dpt duitnya.

Lum selesai kebakaran, eh...mlh rmhmu kemalingan ckckckckck...

Hady's Journal mengatakan...

Ahahahaa, Thx maaaa :D

Aku juga pengen, aduh tapi gimana yaa, sibuuuk :P