Sepotong Hati
Pertama kali aku berjumpa denganmu, tubuhku serasa bergairah dan masa mudaku seperti berseri kembali. Darahku berdesir dan melonjak-lonjak oleh perasaan riang tak terpahami. Lalu tanpa ragu-ragu, kuberikan sepotong hatiku padamu. Kau kaget dan menolak malu-malu.
“Jangan, Tante, berikan saja pada suami atau anak Tante!”
Aku memaksamu agar mau menerima sepotong hatiku. Kau tidak tahu bahwa ada tempat lagi bagi hatiku dalam tubuh suamiku. Dia selalu pergi dariku dan mencari kesenangan-kesenangan dirinya. Begitu juga anakku yang kini besar-besar, mereka mencari kesenangan sendiri.
“Terimalah!”Aku memohon dengan mimik merajuk.
Aku yakin, wajah dan tubuhku masih memancarkan gairah dan gejolak yang mampu menggetarkan setiap hati. Apalagi tubuhku, adalah tubuh yang begitu lama didera sepi, pasti menyimpah gairah terpendam.
“Kalau kau tidak mau hati, bagaimana kalau ini...”
Aku menunjukkan segepok uang. Kau melirik sekilas uang yang kutawarkan.
“Saya nggak bekerja seperti itu. Masa Tante nggak lihat tampang saya? Saya bukan orang yang tante maksudkan.”
“Aku tahu. Aku sudah mencoba berpuluh-puluh pemuda. Tapi kamu lain. Pertama kali kulihat kamu, aku jatuh cinta. Dan perasaan ini tampaknya tak akan hilang. Aku ikhlas memberikan hatiku padamu.”
”Buat diapakan?”
“Terserah kamu.”
“Nggak ah, Tante. Saya nggak bisa menerimanya. Makasih banyak. Saya hanya seorang pengamen, kadang-kadang dagang asongan. Tante bisa lihat tubuh dan pakaian yang dekil ini, kan?”
“Aku tahu. Karena itu buanglah daganganmu yang harganya nggak secuil pun uangku. Dengan uang yang kuberikan, kau bisa membeli apa pun yang kamu mau. Kamu sungguh tampan meski penampilanmu seperti itu. Kamu ...”
Tanpa mempedulikan katak-kataku, kau ngeloyot pergi dariku. Lalu kamu segera mengejar bis kota yang melaju sambil menyandang gitar. Bodoh! Umpatku dengan perasaan sakit. Berani benar kau menolakku. Aku berlari ke BMW-ku, dan segera membuntuti bis kota yang kau tumpangi. Padahal kalau kamu menerima cintaku, kamu tidak usah bersusah payah dan bermalu-malu meminta uang recehan seperti itu.
Di halte entah keberapa, kulihat kau turun. Aku mencegatmu.
“Hallo!” sapaku.
Kukenakan kacamata hitamku. Rambut ikalku kubiarkan tergerai diterpa angin. Kau terlongong. Mungkin kau berpikir, alangkah seksinya aku.
“Gimana, mau menerima tawaranku?” desakku.
“Jangan, Tante. Jangan terus ngikutin saya. Saya nggak mau.”
“Dengan kata lain, kau menolakku?”
Kau mengangguk mantap. Dadaku serasa dipukul. O, pemuda jujur, o, pemuda ganteng, kamu tak mempan dengan rayuan uang dan tubuh seksiku. Tapi aku jatuh cinta padamu. Kukhayalkan tubuhmu kulentangkan di rumput-rumput bundaran taman itu. Kubedah dadamu, dan kutempelkan hatiku di hatimu. Tapi kau melangkah meninggalkanku. Maka dengan gerak cepat, kuselipkan saja sepotong hatiku ke dalam rongga dadamu tanpa kau sendiri menyadarinya.
Setelah kejadian itu, kubiarkan diriku hidup dengan hati yang tinggal sepotong. Maka hari-hari serasa limbung, dan jiwaku terseok-seok. Tapi aku puas melakukan semua ini. Kesakitan ini begini nikmat. Aku telah melakukan pengorbanan demi orang yang kucintai. Toh akhirknya, dengan tempelan sepotong hatiku di hatimu, kau akan selalu mencariku, seperti lempeng magnit mencari besi. Kau akan menempel dan mencintaiku mati-matian. Dan kita akan bercinta, mati-matian.
Tapi ternyata dugaanku meleset. Ternyata jiwamu berubah secara drastis. Kau tak mau lagi jadi pengamen atau pegadang asong. Sifatmu menjadi sepertiku. Sering kulihat kau ke diskotik dan pub-pub sambil menggandeng perempuan kesepian sepertiku, bersama mereka tidur di hotel, atau bermain bilyard, pulangnya menggandeng salah seorang waitress yang kau sukai. Kulihat hidupmu menjadi glamor dan penuh kesenangan.
Aku mencarimu akhirnya, untuk menagih hatiku. Namun sial, pada saat aku sengaja mencarimu, kau seperti menghilang. Akhirnya, aku mencari tempat tinggalmu, aku yakin, kau yang sebenarnya pasti hidup di gang-gang kumuh. Maka pencarianku hanya berousat di tempat-tempat itu. Benar saja, kutemukan tempatmu di sini, di gang dengan parit comberan yang kental dan bau, dengan bocah-bocah penuh kudis dan ingus yang berlari-lari di sekitarnya. Kata orang-orang di gang ini, kamu mengontrak gubuk di ujung gang. Maka kucari kamu ke sana. Seorang perempuang berwajah kuyu dan berdaster lusuh membukakan pintu. Ada anak bermata cekung dalam gendongannya.
“Cari siapa, Bu?” tanyanya.
Kusebut namamu. Tiba-tiba perempuan itu menangis.
“Sudah hampir dua minggu dia nggak pulang, Bu. Saya sendiri nggak ngerti ulahnya akhir-akhir ini. Kata Mas Parjo temennya ngame, dia berubah sekarang. Katanya... katanya....”
Perempuah intu semakin keras mengisak. Anak kurus dalam gendongannya seperti akan ikut menangis.
”Sudah, sudahlah!” bujukku, “Kamu istrinya?”
Perempuan itu mengangguk sambil menghapus air matanya dengan ujung kain gendongan.
“Anak ini juga udah seminggu sakit. Mau berobat nunggu bapaknya. Biasanya pendapatan dia lumayan. Sekarang dia nggak ingat lagi sama anak-istri. Biasanya saya jualan lotek di sini, sekarang modalnya pun udah habis dipake makan, malah udah ngutang sana-sini.”
Perempuan itu terisak lagi. Dia tidak tahu bahwa perubahan sifatmu bukan kehendakmu sendiri. Tiba-tiba perempuan itu tersadar bahwa aku belum dipersilahkan masuk.
“O, iya, Bu. Mari masuk, Bu. Maaf saya lupa.”
Aku menolak masuk rumahmu. Lalu kutinggalkan pesan dan alamatku pada istrimu, agar kalu kau pulang, segera menghubungiku. Kau tidak tahu keadaanku yang parah oleh rindu padamu. Sebelum pergi, kukeluarkan segepok uang dan kuberikan pada istrimu. Dia kaget, dan menolak pada mulanya. Aku mendesaknya.
“Tapi Ibu siapa? Kenapa sebaik ini?”
“Aku dulu pernah ditolong suamimu waktu mobilku mogok. Sekarang ingin berterima kasih padanya, sekalian nagih hati.”
“Nagih hati? Maksud Ibu?”
“Ah, Nggak apa-apa. Udah gitu aja pesen buat suamimu. Permisi!”
Dari hari ke hari, dadaku semakin sakit. Kau, pemuda seusia anak sulungku, ternyata telah merebut segala perasaanku. Setiap hari aku berkeliaran dengan BMW-ku mencarimu. Diskotik-diskotik, super market, bioskop, hotel-hotel, cafetaria, kolam renang, tempat wisata, dan sebagainya, habis kukunjungi. Tapi aku tak menemukanmu. Aku kelayapan tiap malam di antara kelap-kelip lampu mencarimu. Kesepian dan perasaan kehilangan bagai udara musim dingin, menelikung dan membekukan urat syarafku.
Aku tak pernah lagi bermain dengan anak-anak muda. Sejak berjumpa dengamu, aku tak punya lagi keinginan bermain dengan mereka. Hanya kau yang bisa mengobatiku. Pertama kali aku melihatmu, darahku berdesir dan masa mudaku seperti berseri kembali. Aku seperti seorang gadis yang kasmaran pada seorang pemuda idaman, tapi dengan kecintaan yang murni, dengan pengorbanan yang murni, meski si gadis bertepuk sebelah tangan.
Suatu hari, tanpa disangka-sangka, kita bertemu di sebuah tempat perbelanjaan. Aku hampir berlari dan memelukmu. Tapi kukuatkan hatiku. Dengan sikap tenang dan hati-hati kusapa kamu. Aku kini, perempuan yang telah menerima suatu pelajaran dari pengalaman ini. Aku akan datang padamu dengan cinta tulus. Bukan lagi karena nafsu yang bisa dibeli dengan uang. Pengalamanku ditolak olehmu karena kurasa bisa dibeli dengan uang, telah cukup. Betapa sakit rasanya ditolak seseorang yang amat kita butuhkan. Tapi kau tidak seperti dulu lagi. Kejujuran dan keluguan dalam wajahmu hilang, berganti dengan wajah agresif dan menggoda. Cepat kuajak kau ke mobilku.
“Kita ke hotel,” kataku, “masih ingat aku?”
Kau tersenyum menampakkan sebaris gigi yang rapi dan bersih.
“Kenapa Tante masih ngejar saya?”
“Cinta sama kamu.”
“Tapi saya sudah berubah, Tante. Saya sekarang senang ngejar uang dan muasin keinginan saya. Cinta tak ada artinya lagi buat saya. Makanya kutinggalkan anak-istri di rumah. Aneh, akhir-akhir ini saya sangat kesepian. Saya tak puas dengan istri. Saya selalu ingin cari hiburan ...”
“Aku telah membuatmu jadi berperasaan seperti itu. Aku telah merusakmu. Makanya sekarang kamu harus ikut aku. Aku mau ngambil lagi hati yang dulu ditempelkan di hatimu.”
“Tante nempelin hati Tante di hati saya? Kapan? Dulu kan saya menolak.”
“Jangan banyak omong. Nanti kamu akan tahu sendiri bagaimana kukeluarkan hatiku dari hatimu. Aku dulu salah perhitungan. Kukira dengan kutempelkan hatiku di hatimu, kamu bakal ngejar aku. Ternyata sebaliknya. Malah perasaan-perasaan burukku yang nempel di jiwamu, dan membuat hidupmu rusak.”
Mobil yang semula akan kubelokkan ke sebuah hotel, tak jadi kubelokkan. Rencanaku membawamu ke hotel berubah. BMW-ku melaju lurus melewati jalan-jalan perkotaan hingga ke luar dari batas kota. Kubiarkan tanganku mengemudikan setir sekehendaknya sendiri.
Udara dalam mobil terasa sejuk oleh AC. Tape mengumandangkan instrumen jazz yang tenang. Di pinggir jalan yang kulewati,membentang perkebunan teh yang hijau dan segar. Di tempat agak sepi, kuparkir mobilku.
“Kok ke sini?”
“Diam dulu, sayang! Sengaja gak jadi ke hotel sebab itu pasti yang kau mau. Tidak. Aku tidak ingin kamu tetap menjadi pemuda yang tulus dan baik seperti dulu. Bukan seperti sekarang. Aku mencintaimu bukan untuk merusakmu. Aku kini sadar akan kesalahanku. Terlentanglah dulu!”
“Lho, mau apa?”
“Mau ngambil sepotong hati punyaku. Tak baik memaksa menyatukan hati yang tak ingin bersatu.”
“Biar saja hati Tante melekat di hati saya.”
“Perkataan itu datang dari pikiranmu yang sudah rusak. Bukan dari ketulusanmu.”
Akhirnya kau kuterlentangkan dengan agak paksa di jok mobil. Kubedah tubuhmu bagian depan. Lalu kuambil kembali sepotong hatiku ayng sudah mulai membusuk.
“Untung cepat-cepat kuambil. Lihat! Sudah busuk. Kalau tidak, mungkin kamu terjangkit kanker hati.”
“Mau ditempelkan lagi di hati Tante?”
“Nggak. Aku tahu kini betapa busuk hatiku itu. Apakah sepotongnya lagi yang masih melekat di tubuhku sebusuk itu juga? Aku nanti mau check-up sekalian membersihkan hatiku. Sekarang, mari kita pulang. Kembalilah pada istrimu, kembalilah pada hidupmu. Lupakan kejadian denganku, lupakan kejahatanku ...”
Aku menangis sebelum mampu menyetir mobil kembali.


