Namanya Indi Andani.
Panggilannya Indi.
Begini cara mengucapkan namanya dalam Bahasa Inggris: In-Deeeeeeeeeee.
Kata ibuku, Indi artinya: Memiliki jiwa spiritual. Tidak dibuat-buat dan unik. Dapat diandalkan dan bertanggung jawab. Memerlukan banyak kebebasan.
Begitukah? Aku tidak memerdulikan namanya. Masa bodo. Indi yang kutahu adalah Indi yang manis, lugu, baik, ramah, dan mudah bergaul.
Indi memiliki rambut bergelombang berwarna coklat kehitaman. Panjangnya sepunggung.
Kepalanya lonjong, namun tidak seperti terong. Hanya lonjong.
Matanya sedikit sipit, maklum, ada darah cina.
Iris matanya hitam kecoklatan. Cocok dengan rambutnya.
Alisnya segaris dan tipis
Hidungnya mancung dan bibirnya tipis merona. Oh, ya, ada lesung pipinya.
Tubuhnya mungil, mirip dengan tokoh gadis di Rapunzel. Tinggi badannya mungkin 160 cm? 170 cm?
Warna kulitnya kuning langsat.
Ayahnya ada darah cina, dan ibunya jawa.
Ia bisa berbahasa Jawa, tapi tidak bisa bahasa cina.
Agamanya Islam.
Ia memiliki satu adik laki-laki dan umurnya berselisih satu tahun dengan Indi.
Orang tua Indi berbakti dengan negara: 2 Anak Lebih Baik, program KB.
Indi suka warna aquamarine. Warna yang menyerupai air di Danau Toba. Warna yang tenang, seperti jiwa Indi.
Ayahku cina, begitu juga ibuku.
Aku bisa berbahasa Cina, sedikit bisa bahasa Jawa.
Agamaku bukan Islam, aku Katolik.
Aku memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan.
Orang tuaku tidak berbakti dengan negara: Banyak Anak itu Baik Sekali. Ayah Ibuku juga malas memikirkan tetek bengek politik di negara ini. Yang penting bisa hidup.
Aku suka warna hitam. Orang-orang percaya bahwa hitam itu warna yang jahat. Hitam itu warna iblis. Ah, persetan dengan mereka! Intinya, hitam itu warna yang menarik. Warna yang menyerap segala warna. Dan hitam itu warna yang mandiri.
Indi dilahirkan pada tanggal 2 Maret. Zodiaknya Pisces. Yang kutahu, Pisces itu periang dan mudah bergaul. Dan begitulah Indi.
Aku mengenal Indi tiga tahun lalu, ketika aku masih duduk di kelas 8, tahun 2008. Waktu itu ia masih kelas 7.
Indi yang dulu tidak ada bedanya dengan yang kukenal pada tahun lalu, ketika ia masih duduk di kelas 9.
Indi terlihat seperti pendiam, namun ketika ia sedang duduk di bangku sekolah, serasa mulutnya lebih dari satu. Ia suka memelintir rambutnya, memainkannya seperti ombak di pantai.
Ketika Indi tidak bisa menjawab soal, ia hanya akan memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapih.
Aku memang tidak sekelas dengannya, bahkan tidak seangkatan, namun aku tahu semua tentang Indi.
Indi merupakan anggota Modern Dance.
Ketika Indi menari ke sana kemari, seolah-olah ada kilatan cahaya yang menyelimuti tubuhnya. Bersinar, mengikuti Indi menari. Absurd? Tapi ini yang kulihat, dengan mata kepalaku sendiri, dan dengan sedikit kegilaan.
Aku ingat, ketika aku dan Indi bermain bersama di suatu drama, tahun lalu. Aku menjadi tokoh yang jahat dan bengis. Indi menjadi tokoh figuran yang bertugas untuk menebarkan bunga. Dan saat itu aku bersumpah bahwa Indi adalah gadis termanis yang pernah kulihat.
Ketika Indi sudah besar, Indi ingin menjadi desaigner? Dancer? Entahlah. Yang pasti ia akan menjadi seseorang yang sukses karena sekarang Indi sudah rajin.
Indi pandai bermain piano. Ia menyukai piano.
Aku pernah sekali melihat Indi memainkan jari-jari mungilnya di atas piano, dan mungkin saja piano itu sudah ereksi berkali-kali. Ah, Indi begitu memesona!
Aku? Aku sangat menyukai biola, namun aku tidak bisa bermain biola.
Aku pernah sekali memainkan biola kepunyaan sepupuku. Dan ketika ia melihat aku memainkan biolanya, ia menjadi tidak selera bermain biola lagi. Seminggu kemudian, ia memberikan biolanya kepada orang lain.
Piano dan biola itu seperti sepasang kekasih, mereka dapat melahirkan simfoni-simfoni yang indah dan harmonis, namun apabila pemainnya sama-sama bisa menguasai piano/biola.Tidak seperti aku.
Mungkin suatu saat Indi akan menemukan pemain biola yang lebih handal, seperti Indi dengan kehandalannya bermain piano.
Dari situ aku mulai mencintai Indi, maksudku, menyukai Indi.
Sudah tiga tahun aku menyembunyikan perasaan ini.
Tidak satu orang pun tahu akan apa yang kurasakan waktu itu.
Bahkan aku sendiri pun tidak menyadarinya. Mungkin ia tertidur.
Kini ia bangun dan mengerang bagaikan bayi yang minta netek kepada ibunya.
Ia minta hati yang telah dicuri oleh Indi.
Namun kali ini, ia tidak hanya minta hatinya untuk dikembalikan.
Ia juga minta hati punya Indi.
Namun sayang,
Indi gak mau ngasih. Bahkan ia gak mau ngebalikin hati yang udah dia curi.
Indi terlalu sempurna.
Indi tuh gadis impianku!
O-oh, jangan-jangan Indi itu bukan manusia?
Mungkin saja Indi itu dewi dari surga yang menjelma menjadi manusia.
Atau mungkin saja dia putri malam!
Ia memerintahkan bintang untuk menemani laki-laki gila sepertiku.
Atau memang dia benar-benar pencuri.
Ia mencuri bintang, dan memberikannya kepada orang-orang naif sepertiku.
Hahahaha! Daya analitikku memang hebat.
Pasti Alm. Ibu Diana Leroy akan bangga apabila ia membaca karya abstrak ini.
Sialan, ternyata aku salah...
Ternyata Indi sendiri itu bintang.
Indi memancarkan sinarnya kepada setiap orang.
Makanya banyak laki-laki yang mengejarnya seperti tante-tante rebutan barang obralan.
Indi, Indi..
Kau begitu polos, namun mematikan.
Sekarang semuanya masih sama.
Indi masih tetap Indi. Manisnya, lugunya, baiknya. Masih sama.
Aku tetaplah aku. Pahitnya, amit-amitnya, jahatnya. Sama persis!
Cuma ada sedikit perbedaan.
Perasaan aku ke Indi makin melunjak...
Cuma yasudahlah.
Indi tetap bersikeras menyimpan hati yang udah dia curi.
Mungkin Indi bakal mengembalikan nanti, ketika ia sudah bosan dengan barang itu.
Atau mungkin Indi bakal menyambungkan sepotong hati itu dengan hati miliknya.
Dan aku masih bertahan dengan sepotong hati yang rusak dan cacat.
Ah, entahlah. Toh ini semua hanya ilusi semata.
Siluet Indi yang menyudutkan logika.
Haha, pintar sekali aku!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar